Cilegon, (KBN.COM) - Deretan cerobong industri yang menjulang di kawasan Suralaya menjadi penanda pentingnya wilayah ini sebagai salah satu pusat energi dan industri nasional. Namun, di balik geliat investasi tersebut, tersimpan persoalan mendasar yang hingga kini belum menemukan jalan keluar: akses air bersih bagi warga Lingkungan Jelawe, Kelurahan Suralaya, Kecamatan Pulomerak.
Selama bertahun-tahun, masyarakat di lingkungan padat penduduk itu hidup dalam keterbatasan air bersih. Sumur-sumur warga perlahan kehilangan debit, sementara sebagian lainnya menghasilkan air yang keruh, berbau, bahkan terasa asin. Kondisi tersebut memaksa warga mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air bersih demi memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Fenomena ini mencerminkan paradoks pembangunan. Di satu sisi, kawasan Suralaya terus berkembang sebagai kawasan industri strategis. Di sisi lain, sebagian masyarakat yang tinggal berdampingan dengan kawasan tersebut masih menghadapi kesulitan memperoleh kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan.
Sejumlah warga menduga penurunan muka air tanah, intrusi air laut, hingga tekanan terhadap lingkungan akibat pesatnya pembangunan menjadi faktor yang memperburuk krisis air bersih. Persoalan lain adalah belum tersambungnya jaringan distribusi air bersih ke lingkungan Jelawe, sehingga masyarakat masih bergantung pada sumur pribadi maupun pasokan air tangki.
Dampaknya tidak hanya dirasakan dari sisi ekonomi. Beban pengeluaran rumah tangga meningkat karena harus membeli air hampir setiap pekan. Di sisi lain, penggunaan air yang kualitasnya kurang layak juga berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari penyakit kulit hingga gangguan pencernaan, terutama bagi anak-anak dan lanjut usia.
Ketua RT Jelawe, M. Amin, mengatakan persoalan air bersih telah lama menjadi aspirasi masyarakat. Berbagai upaya swadaya telah dilakukan warga, mulai dari pengeboran sumur dengan kedalaman lebih besar, penyaringan air secara mandiri hingga mencari sumber air alternatif. Namun langkah tersebut belum mampu mengatasi persoalan secara permanen.
"Kami berharap ada solusi nyata. Pemerintah bersama perusahaan-perusahaan industri di sekitar dapat membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Ini sudah menjadi kebutuhan yang sangat mendesak," kata Amin saat dihubungi melalui WhatsApp, Minggu 19 Juli 2026.
Menurutnya, laporan dan keluhan warga telah disampaikan kepada pemerintah mulai dari tingkat kelurahan, kecamatan hingga perangkat daerah terkait di Pemerintah Kota Cilegon. Namun hingga kini, solusi yang bersifat jangka panjang belum juga terealisasi.
Harapan serupa disampaikan Tini, salah seorang warga Jelawe. Ia berharap pemerintah segera memperluas jaringan distribusi air bersih, membangun sumur umum yang memenuhi standar kesehatan, sekaligus memperkuat pengawasan terhadap dampak lingkungan akibat aktivitas industri di kawasan Suralaya.
"Air bersih bukan sekadar fasilitas, tetapi hak dasar masyarakat. Kami berharap pemerintah hadir dengan kebijakan yang benar-benar menyelesaikan persoalan ini," ujarnya.
Persoalan air bersih di Jelawe menjadi pengingat bahwa pembangunan industri semestinya berjalan beriringan dengan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat. Di kawasan yang menjadi salah satu penopang ekonomi nasional, akses terhadap air bersih seharusnya tidak lagi menjadi kemewahan, melainkan pelayanan publik yang dapat dinikmati setiap warga tanpa terkecuali.
(Genta/Red*)

إرسال تعليق