Dari Madrasah di Cilegon ke Kursi Guru Besar, Jejak Hasani Ahmad Said Jadi Inspirasi


Cilegon, (KBN.COM) –
Kabar membanggakan datang bagi masyarakat Kota Cilegon, khususnya warga Kelurahan Pabean. Putra daerah asal kawasan pesisir itu, Dr. Hasani Ahmad Said, M.A., resmi dijadwalkan dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Tafsir Maqashidi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Pengukuhan tersebut akan berlangsung pada Senin, 13 Juli 2026, di Hotel Grand Mercure Harmoni, Jakarta Pusat, dan menjadi salah satu momentum penting dalam dunia akademik Islam nasional. Bagi Cilegon, capaian ini bukan sekadar kabar seremonial, melainkan penegasan bahwa dari sudut kota industri pun lahir intelektual yang mampu menembus panggung keilmuan nasional.

Hasani bukan nama asing di kalangan akademik Islam. Ia dikenal sebagai akademisi yang meniti jalan ilmu secara tekun, senyap, namun konsisten. Lahir dan tumbuh dari lingkungan sederhana di Kelurahan Pabean, Hasani menempuh pendidikan agama di MTs dan MA Al-Khairiyah Karang Tengah, Cilegon. Dari ruang-ruang pendidikan itulah fondasi intelektual dan spiritualnya dibangun, sebelum kemudian berkembang menjadi salah satu pengkaji Al-Qur’an dan tafsir yang diperhitungkan.

Perjalanan akademik Hasani Ahmad Said terbilang utuh dan terarah. Ia menyelesaikan pendidikan S1, S2, hingga S3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada bidang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Ketekunannya berbuah manis ketika meraih gelar doktor pada 2011 dengan predikat lulusan terbaik. Capaian itu menjadi tonggak penting yang menandai kualitas akademik sekaligus keseriusannya dalam menekuni kajian Al-Qur’an.

Sejak 2014, Hasani mengabdi sebagai dosen tetap Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta. Di lingkungan kampus, ia dikenal sebagai pengajar yang produktif, peneliti yang serius, sekaligus pemikir yang memiliki fokus keilmuan yang jelas. Kiprahnya tidak berhenti di ruang kelas. Ia juga aktif mengajar di berbagai program pascasarjana lintas institusi, menulis karya ilmiah, serta terlibat dalam pengembangan kajian tafsir yang kontekstual dengan kebutuhan zaman.

Nama Hasani juga kerap muncul dalam berbagai forum keislaman, terutama yang berkaitan dengan Al-Qur’an. Ia beberapa kali dipercaya menjadi dewan hakim Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) di berbagai tingkatan. Peran ini semakin menegaskan otoritasnya dalam bidang Al-Qur’an dan memperlihatkan bahwa kiprahnya tidak hanya berhenti di ranah akademik, tetapi juga menjangkau ruang pengabdian keumatan.

Pengukuhan Hasani Ahmad Said sebagai Guru Besar di usia 44 tahun menjadi capaian yang patut dicatat. Di tengah ketatnya standar akademik dan tuntutan produktivitas perguruan tinggi, gelar profesor bukanlah penghargaan yang datang tiba-tiba. Ia merupakan hasil dari perjalanan panjang, kerja intelektual yang terukur, publikasi ilmiah yang konsisten, serta kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Dalam konteks ini, capaian Hasani tidak hanya layak dibaca sebagai prestasi personal. Lebih dari itu, pengukuhan tersebut menjadi simbol bahwa tradisi keilmuan Islam Indonesia terus melahirkan tokoh-tokoh baru dengan kapasitas akademik yang kuat. Bidang Tafsir Maqashidi yang menjadi ruang kepakarannya pun memiliki relevansi besar di tengah kebutuhan masyarakat modern untuk memahami Al-Qur’an secara lebih substantif, kontekstual, dan berorientasi pada tujuan-tujuan syariat.

Tafsir Maqashidi sendiri menekankan pembacaan Al-Qur’an dengan melihat nilai, tujuan, dan kemaslahatan yang hendak diwujudkan. Pendekatan ini menjadi penting di era ketika umat tidak hanya membutuhkan tafsir yang tekstual, tetapi juga tafsir yang mampu menjawab persoalan sosial, kemanusiaan, kebangsaan, hingga perubahan zaman. Dalam konteks itulah, kehadiran Hasani sebagai Guru Besar bukan hanya memperkuat UIN Jakarta, tetapi juga memperkaya khazanah pemikiran Islam Indonesia.

Bagi masyarakat Cilegon, capaian ini tentu memiliki makna emosional yang kuat. Hasani Ahmad Said bukan hanya akademisi nasional, tetapi juga representasi keberhasilan putra daerah yang tumbuh dari lingkungan lokal, menimba ilmu di lembaga pendidikan berbasis keagamaan, lalu menorehkan prestasi di tingkat nasional.

Jejak pendidikannya di Al-Khairiyah Karang Tengah menjadi bagian penting dari cerita itu. Lembaga pendidikan yang telah lama menjadi salah satu pilar pendidikan Islam di Cilegon kembali menunjukkan kontribusinya dalam melahirkan sumber daya manusia unggul. Dari rahim pendidikan Al-Khairiyah, lahir figur yang kini menempati salah satu jenjang tertinggi dalam dunia akademik.

Karena itu, pengukuhan Hasani sebagai Guru Besar dapat dibaca sebagai kebanggaan bersama: kebanggaan keluarga besar Al-Khairiyah, kebanggaan masyarakat Pabean, dan kebanggaan Kota Cilegon secara keseluruhan. Di tengah derasnya arus industrialisasi dan dinamika perkotaan, capaian ini menjadi pengingat bahwa Cilegon tidak hanya melahirkan tenaga kerja dan pelaku industri, tetapi juga melahirkan intelektual, ulama, dan pemikir.

Kisah Hasani Ahmad Said menyampaikan pesan sederhana, namun kuat: latar belakang bukan penghalang untuk menembus puncak prestasi. Dari kawasan pesisir di Pabean, dari bangku madrasah di Cilegon, ia membuktikan bahwa ketekunan, disiplin, dan kecintaan pada ilmu dapat membuka jalan menuju capaian besar.

Di tengah tantangan generasi muda hari ini—mulai dari distraksi digital, pragmatisme, hingga menurunnya minat membaca—figur seperti Hasani penting dihadirkan sebagai teladan. Bahwa ilmu tetap menjadi jalan perubahan. Bahwa konsistensi lebih penting daripada sensasi. Dan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar dibaca, tetapi juga dikaji, dipahami, dan dijadikan sumber inspirasi untuk membangun peradaban.

Pengukuhan Guru Besar ini pada akhirnya bukan hanya seremoni akademik. Ia adalah penegasan atas perjalanan panjang seorang anak daerah yang menjaga kesetiaan pada ilmu. Dari Cilegon, Hasani Ahmad Said menegaskan bahwa prestasi besar bisa lahir dari akar yang sederhana—asal dirawat dengan kerja keras, kesungguhan, dan keberanian untuk terus belajar.

(Yan/Red*)

Post a Comment

أحدث أقدم