CILEGON, WILIP.ID – Pemerintah Kota Cilegon menunjukkan keseriusannya dalam membina generasi Qurani sekaligus mengapresiasi prestasi para peserta Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Tahun ini, Pemkot Cilegon resmi menaikkan bonus bagi kafilah yang berhasil menorehkan prestasi pada MTQ XXIII Tingkat Provinsi Banten 2026.
Kabar itu disampaikan langsung oleh Wali Kota Cilegon Robinsar saat melepas kafilah MTQ Kota Cilegon di Masjid Nurul Iman, Kompleks Pemerintah Kota Cilegon, Sabtu (4/7/2026). Di hadapan peserta, official, pelatih, dan jajaran pemerintah daerah, Robinsar menegaskan bahwa kenaikan bonus bukan sekadar hadiah, melainkan bentuk penghormatan atas kerja keras, disiplin, dan proses panjang pembinaan yang telah dijalani para peserta.
“Tahun ini kita naikkan bonusnya. Untuk juara pertama menjadi Rp50 juta, juara kedua Rp30 juta, dan juara ketiga Rp20 juta. Ini bentuk apresiasi dan motivasi dari Pemerintah Kota Cilegon,” ujar Robinsar.
Kebijakan menaikkan bonus itu menjadi sinyal bahwa Pemkot Cilegon tidak ingin keikutsertaan dalam MTQ sekadar bersifat seremonial. Pemerintah ingin para peserta datang ke arena lomba dengan rasa percaya diri, dukungan moral yang kuat, dan keyakinan bahwa setiap capaian akan dihargai secara layak.
Bagi Pemkot Cilegon, para peserta MTQ bukan hanya delegasi daerah, melainkan representasi wajah pembinaan keagamaan di Kota Baja. Mereka adalah putra-putri terbaik yang telah melalui tahapan seleksi, pelatihan, dan pembinaan berjenjang sebelum akhirnya dipercaya membawa nama daerah di level provinsi.
Karena itu, Robinsar meminta seluruh peserta tidak membawa beban berlebihan, tetapi tampil dengan keyakinan penuh atas kemampuan yang telah ditempa selama ini. Menurutnya, setiap anggota kafilah yang berangkat adalah pribadi terpilih yang sudah membuktikan kualitasnya di tingkat kota.
“Adik-adik semua adalah orang-orang pilihan, yang terbaik dari yang terbaik. Jangan pernah meragukan kemampuan diri sendiri,” katanya memberi semangat.
Pernyataan itu memperlihatkan satu hal penting: Pemkot Cilegon ingin membangun atmosfer kompetisi yang sehat, optimistis, dan penuh dorongan psikologis. Dalam ajang seperti MTQ, kesiapan peserta memang tidak hanya diukur dari kualitas tilawah, hafalan, tafsir, fahmil, syarhil, maupun cabang lomba lainnya, tetapi juga dari ketenangan mental saat tampil di hadapan dewan hakim.
Robinsar menegaskan, keberhasilan di panggung MTQ tidak semata ditentukan oleh kemampuan teknis membaca atau memahami Al-Qur’an. Lebih dari itu, ada unsur mental, fokus, kesungguhan, dan konsistensi yang menjadi faktor penentu.
Ia menyebut para peserta telah melewati latihan panjang. Karena itu, yang kini dibutuhkan adalah keberanian untuk tampil maksimal dan menjadikan seluruh proses pembinaan sebagai modal utama saat berlaga di tingkat Provinsi Banten.
“Tugas kita adalah berikhtiar semaksimal mungkin. Saya yakin adik-adik sudah menjalani latihan dan pembinaan dalam waktu yang panjang,” tuturnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa MTQ bukan hanya ajang adu kemampuan, melainkan juga ruang pembuktian hasil pembinaan keagamaan daerah. Semakin baik sistem pembinaan yang dibangun, semakin besar pula peluang lahirnya peserta-peserta unggulan yang mampu bersaing di level lebih tinggi.
Kenaikan bonus juga dibaca sebagai dorongan serius agar capaian Kota Cilegon pada MTQ Provinsi Banten tahun ini meningkat dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Pemkot tidak menutup target besar: bukan hanya tampil kompetitif di level provinsi, tetapi juga menyiapkan jalan bagi peserta terbaik untuk melangkah ke pentas nasional.
Robinsar berharap momentum MTQ 2026 menjadi panggung kebangkitan prestasi kafilah Kota Cilegon. Ia ingin nama Cilegon tidak sekadar tercatat sebagai peserta, tetapi benar-benar diperhitungkan sebagai daerah yang mampu melahirkan juara.
“Kita ingin MTQ Kota Cilegon terus berbicara banyak di tingkat provinsi bahkan nasional. Jadikan kesempatan ini sebagai motivasi untuk berprestasi, membanggakan orang tua, dan mengharumkan nama Kota Cilegon,” ucapnya.
Pernyataan itu menegaskan orientasi Pemkot Cilegon yang mulai melihat MTQ sebagai bagian dari investasi sumber daya manusia berbasis nilai-nilai keislaman. Prestasi di bidang keagamaan diposisikan sejajar dengan prestasi akademik dan olahraga—sama-sama layak dibina, dihargai, dan dipromosikan.
Di sisi lain, Ketua Kafilah Kota Cilegon Mahmudin mengingatkan bahwa persaingan di tingkat Provinsi Banten tidak akan mudah. Setiap kabupaten/kota dipastikan mengirimkan peserta terbaiknya, sehingga setiap cabang lomba akan berlangsung ketat.
Meski demikian, Mahmudin meminta seluruh peserta tetap tenang dan menjadikan ketatnya persaingan sebagai pemantik semangat, bukan sumber tekanan. Ia juga mengajak masyarakat Cilegon untuk memberi dukungan dan doa agar seluruh peserta selalu diberi kesehatan, kelancaran, serta kemampuan tampil optimal di arena lomba.
“Persaingan memang sangat ketat, tetapi jangan pernah pesimis. Tunjukkan bahwa kafilah Kota Cilegon mampu bersaing dan memberikan yang terbaik,” katanya.
Ajakan itu penting, sebab keberhasilan sebuah kafilah tidak lahir dari kemampuan individu semata, tetapi juga dari kekuatan dukungan kolektif—mulai dari pelatih, official, keluarga, hingga masyarakat yang menitipkan harapan pada para peserta.
Kenaikan bonus untuk para juara MTQ pada akhirnya bukan hanya soal nominal. Di balik angka Rp50 juta untuk juara pertama, Rp30 juta untuk juara kedua, dan Rp20 juta untuk juara ketiga, ada pesan kuat bahwa Pemerintah Kota Cilegon ingin menghadirkan penghargaan yang lebih konkret bagi prestasi keagamaan.
Langkah ini sekaligus memperlihatkan keberpihakan pemerintah terhadap pembinaan generasi Qurani. Ketika prestasi dihargai, motivasi tumbuh. Ketika motivasi tumbuh, kualitas pembinaan akan ikut terdorong. Dan ketika pembinaan berjalan konsisten, harapan untuk melihat kafilah Kota Cilegon menembus level tertinggi bukan lagi sekadar slogan.
Kini, seluruh mata tertuju pada perjuangan kafilah Kota Cilegon di MTQ XXIII Provinsi Banten 2026. Dengan bonus yang dinaikkan, dukungan pemerintah yang diperkuat, dan mental juang yang terus dipompa, Cilegon sedang mengirim pesan tegas: mereka datang bukan sekadar meramaikan, tetapi siap membawa pulang prestasi.
(Yan/Red*)

إرسال تعليق