Cilegon, (KBN.COM) — Di tengah derasnya arus digitalisasi yang mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, pendidikan dituntut tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga tetap menjaga nilai-nilai moral dan kemanusiaan. Kesadaran itulah yang mendorong Karang Taruna Kota Cilegon menggelar Bedah Buku Pendidikan Islam di Era 5.0: Inovasi Kurikulum, Metode, dan Teknologi karya akademisi muda sekaligus Dosen Universitas Pamulang, Rikil Amri, Kamis (18/6/2026).
Bertempat di Ruang Teater Perpustakaan Kota Cilegon, kegiatan yang mengangkat tema “Membangun Literasi Pendidikan Islam yang Adaptif, Humanis, dan Berbasis Teknologi di Era Society 5.0” tersebut menjadi ruang bertemunya berbagai elemen masyarakat, mulai dari akademisi, pemerintah daerah, pegiat literasi, mahasiswa, pelajar hingga generasi muda yang memiliki perhatian terhadap masa depan pendidikan.
Di tengah tantangan era digital yang semakin kompleks, forum ini tidak sekadar membedah isi sebuah buku. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi wadah pertukaran gagasan mengenai bagaimana pendidikan Islam mampu bertransformasi tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai fundamental yang menjadi pijakannya.
Ketua Karang Taruna Kota Cilegon, Edi Firmansyah, menegaskan bahwa penguatan budaya literasi merupakan investasi jangka panjang dalam membangun kualitas sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.
Menurutnya, literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, memahami perubahan, serta melahirkan solusi atas berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.
"Literasi merupakan fondasi penting dalam membangun masyarakat yang maju dan berdaya saing. Karena itu, Karang Taruna berupaya menghadirkan ruang-ruang diskusi yang produktif agar lahir pemikiran dan gagasan yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah," ujarnya.
Sementara itu, penulis buku, Rikil Amri, menjelaskan bahwa karyanya lahir dari kegelisahan akademik terhadap kebutuhan pendidikan Islam yang lebih responsif terhadap perkembangan zaman. Menurutnya, era Society 5.0 menuntut lembaga pendidikan untuk mampu memadukan kemajuan teknologi dengan pembentukan karakter peserta didik.
Ia menilai, keberhasilan pendidikan tidak lagi cukup diukur dari capaian akademik semata, melainkan juga dari kemampuan melahirkan generasi yang memiliki akhlak, integritas, serta kecakapan memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.
"Era Society 5.0 menuntut pendidikan Islam untuk lebih inovatif, adaptif, dan responsif terhadap perkembangan teknologi. Pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, akhlak, dan kemampuan memanfaatkan teknologi secara bijaksana," jelasnya.
Apresiasi terhadap kegiatan tersebut juga datang dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Cilegon, Ismatullah. Ia menilai bedah buku seperti ini menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem literasi di Kota Cilegon.
Menurutnya, perpustakaan saat ini tidak lagi sekadar berfungsi sebagai tempat penyimpanan koleksi buku, melainkan harus bertransformasi menjadi pusat pembelajaran dan ruang lahirnya ide-ide baru yang mendorong kemajuan masyarakat.
"Perpustakaan tidak lagi hanya menjadi tempat menyimpan buku, tetapi harus menjadi pusat pembelajaran, pusat pengetahuan, dan ruang bertemunya gagasan-gagasan yang dapat mendorong kemajuan masyarakat," kata Ismatullah.
Ia menambahkan bahwa tema pendidikan Islam di era Society 5.0 sangat relevan dengan kebutuhan masa kini. Integrasi antara nilai-nilai keislaman, kemanusiaan, dan teknologi menjadi fondasi penting dalam mencetak generasi masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Dinas Sosial Kota Cilegon, Lia Nurlia Mahatma. Menurutnya, pembangunan daerah tidak bisa hanya bertumpu pada pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi semata. Penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan literasi harus menjadi prioritas utama.
Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan organisasi kepemudaan seperti Karang Taruna merupakan langkah strategis dalam membangun masyarakat yang inklusif, berdaya, dan memiliki ketahanan sosial yang kuat.
Diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Berbagai pertanyaan serta pandangan kritis dari peserta menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap isu pendidikan Islam, literasi, dan tantangan transformasi digital.
Antusiasme peserta menjadi bukti bahwa budaya intelektual di kalangan generasi muda Cilegon terus tumbuh. Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa ruang-ruang diskusi berbasis literasi masih memiliki tempat penting di tengah dominasi informasi serba cepat di era digital.
Lebih dari sekadar peluncuran dan pembahasan buku, forum ini menjadi momentum untuk mengapresiasi karya intelektual putra daerah sekaligus memperkuat tradisi membaca, menulis, dan berdiskusi yang menjadi fondasi kemajuan peradaban.
Melalui kegiatan tersebut, Karang Taruna Kota Cilegon kembali menegaskan perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam membangun generasi muda yang cerdas, inovatif, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan organisasi kepemudaan diyakini menjadi kunci lahirnya masyarakat Cilegon yang semakin maju, literat, serta berakhlak mulia di tengah era Society 5.0.
(Yan/Red*)

إرسال تعليق