Cilegon, (KBN.COM) — Mantan Wakil Presiden RI, Ma'ruf Amin, mengingatkan pentingnya kebangkitan ekonomi umat berbasis nilai keagamaan di tengah derasnya arus industrialisasi di Banten, khususnya Kota Cilegon.
Pesan itu disampaikan dalam acara Halal Bihalal yang digelar PCNU Kota Cilegon di Pondok Pesantren Darul Mustofa, Selasa (14/4/2026).
Dalam pidatonya, Ma’ruf Amin mengajak masyarakat untuk menengok kembali kejayaan Banten di masa lalu yang dibangun di atas dua pilar utama: kekuatan agama dan kesejahteraan ekonomi.
“Banten itu dulu dikenal sebagai kerajaan maju. Ciri utamanya ada dua, kuat dalam agama dan sejahtera masyarakatnya. Ini yang harus kita hidupkan kembali,” ujarnya.
Ia merujuk pada kepemimpinan Sultan Hussein yang dinilai berhasil membangun keseimbangan antara spiritualitas dan kemakmuran. Menurutnya, konsep tersebut tetap relevan untuk menjawab tantangan zaman saat ini.
Namun di tengah ekspansi industri yang masif di Banten, Ma’ruf Amin mengingatkan agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton.
“Silakan investasi masuk, silakan semua pihak menikmati. Tapi jangan sampai warga Banten sendiri tertinggal. Mereka harus jadi pelaku utama,” tegasnya.
Pernyataan itu menjadi penegasan keras bahwa industrialisasi tanpa keterlibatan masyarakat lokal berpotensi menciptakan kesenjangan baru. Karena itu, ia mendorong Nahdlatul Ulama (NU) mengambil peran strategis sebagai penghubung antara umat, pemerintah, dan dunia industri.
“NU harus mampu mengkolaborasikan kekuatan umat. Warga Nahdliyin harus terlibat aktif, bukan pasif,” katanya.
Dalam perspektif yang lebih luas, Ma’ruf Amin juga menekankan pentingnya transformasi santri agar lebih produktif dan adaptif terhadap perkembangan ekonomi modern. Ia mengingatkan bahwa keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat menjadi kunci utama.
“Mencintai dunia bukan kesalahan, selama itu untuk memperkuat ibadah dan tidak melupakan akhirat,” ujarnya.
Ia kemudian mengangkat konsep “jihad akbar” dalam konteks kekinian, yakni membangun kemandirian ekonomi umat berbasis syariah. Menurutnya, penguatan ekonomi tidak cukup hanya dengan semangat, tetapi juga harus dibarengi dengan pemahaman yang kuat terhadap ilmu agama, khususnya Al-Qur’an dan hadis.
“Ekonomi syariah harus dipahami secara utuh. Jangan sampai kita bicara ekonomi Islam, tapi tidak mengerti ilmunya,” tegasnya.
Lebih jauh, ia mendorong warga Nahdliyin di Cilegon untuk menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus jembatan strategis antara kepentingan masyarakat dan arus investasi.
Dengan gaya khasnya yang lugas namun sarat makna, Ma’ruf Amin menutup pesannya dengan satu garis besar: kebangkitan ekonomi umat bukan pilihan, melainkan keharusan.
Di tengah laju industri yang kian cepat, Cilegon tidak hanya membutuhkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keadilan ekonomi. Dan di titik itulah, peran ulama, santri, serta organisasi keagamaan seperti NU menjadi semakin relevan—bahkan krusial.
(Yan/Red*)

Posting Komentar