Alumni Pondok Yatim Piatu Daarus Syafa’at Gelar Bukber dan Silaturahmi, Perkuat Ikatan Keluarga Besar Abah TB Aat Syafa’at


Cilegon, (KBN.COM) – Semangat kebersamaan dan rasa syukur kembali terasa di lingkungan Pondok Yatim Piatu Daarus Syafa’at, Kelurahan Jombang Wetan, Kota Cilegon. Puluhan alumni bersama para santri berkumpul dalam kegiatan buka puasa bersama (bukber) dan silaturahmi tahunan, Minggu (8/3/2026).

Kegiatan yang berlangsung di pendopo pondok tersebut bukan sekadar agenda rutin Ramadan. Lebih dari itu, acara ini menjadi momentum mempererat kembali hubungan kekeluargaan antara para alumni, santri, serta keluarga besar pendiri pondok, almarhum H. TB. Aat Syafa’at, yang dikenal sebagai salah satu tokoh pembangunan Kota Cilegon.

Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Hj. Sumarliyah, istri almarhum H. TB. Aat Syafa’at, Hj. Ratu Ati Marliati, Ketua Yayasan Al-Ishlah, serta Hj. Robiatul Adawiyah, Plt Direktur RSUD Panggung Rawi Cilegon. Kehadiran mereka menambah hangat suasana silaturahmi yang penuh nuansa kekeluargaan.

Ketua Alumni Pondok Yatim Piatu Daarus Syafa’at, Ahmad Haryani, menjelaskan bahwa kegiatan silaturahmi dan buka bersama telah menjadi tradisi tahunan para alumni sebagai bentuk penghormatan kepada pondok yang pernah menjadi tempat mereka menimba ilmu dan kehidupan.

Menurutnya, banyak alumni yang merasakan langsung bagaimana pondok tersebut menjadi rumah kedua bagi anak-anak yatim dan dhuafa yang membutuhkan pendidikan dan kehidupan yang layak.

“Kegiatan silaturahmi dan bukber ini sudah menjadi agenda tahunan kami. Ini bentuk rasa syukur dan upaya memperkuat ikatan kekeluargaan antara alumni dan keluarga besar Abah Aat Syafa’at. Kami pernah disekolahkan dan dibesarkan di pondok ini, sehingga tidak pernah lupa jalan pulang,” ujar Haryani.

Tak hanya berbuka puasa bersama, rangkaian kegiatan juga diisi dengan santunan kepada anak-anak yatim dan santri pondok, serta ziarah kubur ke makam pendiri pondok, almarhum H. TB. Aat Syafa’at.

Bagi para alumni, ziarah tersebut bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk doa dan penghormatan kepada sosok yang telah berjasa besar mendirikan pondok serta membuka akses pendidikan bagi anak-anak yatim dan keluarga kurang mampu di Cilegon.

“Ziarah ini menjadi bentuk doa kami kepada Abah Aat Syafa’at yang telah mendirikan pondok ini. Beliau telah memberi kesempatan bagi banyak anak yatim untuk mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang lebih baik,” kata Haryani.

Dalam sambutannya, Hj. Ratu Ati Marliati menyampaikan apresiasi atas konsistensi para alumni yang terus menjaga tradisi silaturahmi dengan pondok dan keluarga pendiri.

Ia menilai kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa nilai-nilai kebersamaan yang ditanamkan di pondok masih hidup dan terus dijaga oleh para alumni.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan tahunan yang dilakukan para alumni Pondok Yatim Piatu Daarus Syafa’at. Semoga kegiatan ini terus berjalan dan semakin mempererat silaturahmi serta kekeluargaan,” ujarnya.

Ati juga menegaskan bahwa Pondok Yatim Piatu Daarus Syafa’at merupakan warisan berharga dari orang tuanya, almarhum H. TB. Aat Syafa’at, yang harus terus dijaga dan dilanjutkan oleh keluarga serta para alumni.

Ia berpesan kepada para alumni agar tidak melupakan pondok tempat mereka pernah tumbuh dan belajar.

“Jangan pernah melupakan pondok ini. Sesekali datanglah untuk menjenguk adik-adik santri atau sekadar menyapa. Tidak harus selalu dengan bantuan materi, yang terpenting silaturahmi tetap terjaga,” pesannya.

Hal senada juga disampaikan Hj. Sumarliyah, yang menyampaikan rasa terima kasih dan kebanggaannya melihat para alumni tetap menjaga hubungan dengan pondok yang didirikan oleh almarhum suaminya.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan silaturahmi dan buka bersama yang dilakukan oleh anak-anak saya, para alumni pondok. Semoga ke depan kegiatan ini semakin ramai dan semakin kompak,” ujarnya.

Menurut Sumarliyah, Pondok Yatim Piatu Daarus Syafa’at didirikan dengan tujuan mulia, yakni menampung anak-anak yatim, piatu, serta keluarga kurang mampu agar tetap bisa bersekolah dan mendapatkan kehidupan yang layak.

Di pondok tersebut, para santri tidak hanya mendapatkan pendidikan, tetapi juga fasilitas tempat tinggal dan kebutuhan makan sehari-hari.

“Pondok ini didirikan untuk menampung anak-anak yatim piatu yang tidak mampu bersekolah. Ini menjadi ladang amal yang dibangun oleh suami saya, H. TB. Aat Syafa’at. Karena itu, pondok ini harus terus kita jaga dan rawat bersama,” pungkasnya.

Di tengah perkembangan Kota Cilegon sebagai kawasan industri, Pondok Yatim Piatu Daarus Syafa’at tetap berdiri sebagai simbol kepedulian sosial dan warisan nilai kemanusiaan. Bagi para alumni, kembali ke pondok bukan sekadar nostalgia, tetapi juga pengingat bahwa keberhasilan mereka hari ini tak lepas dari tangan-tangan yang pernah membimbing dan mengasuh mereka di masa lalu.


(Yan/Red*)

Post a Comment

أحدث أقدم