Kadin Cilegon Rangkul Forkopimda Bahas Investasi, Pengusaha Lokal Jangan Jadi Penonton di Daerah Sendiri


‎CILEGON, (KBN.COM) – Derasnya arus investasi yang masuk ke Kota Cilegon harus menjadi peluang nyata bagi pengusaha lokal, bukan justru membuat mereka hanya menjadi penonton di daerah sendiri. Hal tersebut menjadi salah satu sorotan dalam forum diskusi investasi yang diinisiasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Cilegon bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
‎
‎Pertemuan yang berlangsung di Aula Rapat Kadin Cilegon, Jumat (30/10/2026), Forkopimda  Cilegon, Jajaran Kadin Cilegon, Gapensi,  serta Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Cilegon.
‎
‎Forum tersebut menjadi ruang komunikasi antara pemerintah, aparat penegak hukum, dan organisasi profesi untuk membahas penguatan investasi, kepastian regulasi, serta keterlibatan pengusaha lokal dalam pertumbuhan ekonomi daerah.

‎
‎Wakil Ketua Kadin Kota Cilegon, Mulyadi Sanusi atau yang akrab disapa Cakmul, mengatakan bahwa Kadin berupaya merangkul seluruh pemangku kepentingan agar pengusaha lokal memiliki ruang dan kesempatan yang lebih besar dalam menghadapi perkembangan investasi di Kota Cilegon.
‎
‎Menurutnya, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1987 tentang Kamar Dagang dan Industri, Kadin memiliki peran sebagai wadah dan fasilitator dunia usaha. Karena itu, Kadin harus mampu menjembatani kepentingan pengusaha dengan pemerintah.

‎
‎"Ketika ada gempuran investasi di Kota Cilegon, pengusaha lokal jangan sampai hanya menjadi penonton. Kadin hadir untuk merangkul seluruh pengusaha, termasuk Gapensi, HIPMI, dan organisasi profesi lainnya, agar bersama-sama pemerintah bisa menumbuhkan perekonomian dan dunia usaha di daerah," ujar Cakmul.
‎
‎Ia menilai, komunikasi antara pelaku usaha dan unsur Forkopimda perlu diperkuat. Salah satu persoalan yang harus mendapat perhatian adalah kepastian regulasi dan payung hukum agar pengusaha lokal dapat menjalankan kegiatan usahanya dengan aman dan memiliki kesempatan yang setara.
‎
‎Cakmul mengakui, selama ini ruang diskusi antara organisasi pengusaha, pemerintah, dan unsur Forkopimda masih perlu ditingkatkan. Karena itu, inisiatif diskusi tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya komunikasi yang lebih intensif dan berkelanjutan.
‎
‎"Kita ingin pengusaha lokal mendapatkan kepastian dari sisi regulasi. Jangan sampai investasi terus berkembang, tetapi pengusaha daerah tidak mendapatkan ruang untuk ikut tumbuh. Intinya, Kadin mengajak seluruh pengusaha dan Forkopimda untuk bersatu membangun perekonomian Cilegon," tegasnya.
‎
‎Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, Cakmul juga menyinggung pentingnya memulihkan kepercayaan publik terhadap Kadin setelah munculnya persoalan yang sempat menjadi perhatian masyarakat.
‎
‎Ia menegaskan, Kadin akan memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, aparat penegak hukum, serta seluruh organisasi profesi untuk membangun kembali citra organisasi dan mencegah persoalan serupa terulang.
‎
‎Sementara itu, Ketua Gapensi Kota Cilegon, Ade Saiful, menyambut positif inisiatif diskusi tersebut. Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan organisasi profesi menjadi langkah penting untuk membangkitkan kembali kepercayaan terhadap pengusaha lokal.
‎
‎"Kami dari Gapensi sangat mendukung diskusi seperti ini. Ini menjadi bagian dari upaya membangun sinergi antara pemerintah dengan organisasi profesi yang ada di Cilegon," ungkap Ade.
‎
‎Ia berharap forum tersebut membawa angin segar bagi kebangkitan dunia usaha lokal, khususnya sektor konstruksi yang menjadi bidang usaha anggota Gapensi.
‎
‎Ade menyebutkan, saat ini terdapat sekitar 100 pengusaha lokal yang tergabung dalam Gapensi Kota Cilegon. Mereka membutuhkan iklim usaha yang kondusif serta peluang yang terbuka agar dapat berkontribusi dalam pembangunan daerah.
‎
‎Di sisi lain, Ketua HIPMI Kota Cilegon, Ivan Ferdiansyah, menilai forum investasi tersebut menjadi momentum penting untuk membicarakan peluang usaha yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
‎
‎Menurut Ivan, pembahasan tidak boleh hanya berorientasi pada investasi baru yang masuk ke Cilegon. Potensi hilirisasi dan pengembangan industri dari perusahaan yang sudah beroperasi juga harus menjadi perhatian.
‎
‎"Jangan hanya bicara investasi yang masuk. Kita juga harus melihat investasi yang sudah berdiri, karena banyak peluang hilirisasi yang sebenarnya bisa dimanfaatkan oleh pengusaha lokal," kata Ivan.
‎
‎Ia menegaskan, pengusaha Cilegon harus didorong berkembang dari skala lokal menuju skala nasional. Kehadiran industri besar semestinya mampu menciptakan efek berganda, mulai dari tumbuhnya perusahaan lokal hingga terbukanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
‎
‎Selain peluang bisnis, Ivan turut menyoroti pentingnya peningkatan kompetensi tenaga kerja melalui pendampingan dan sertifikasi keahlian. Menurutnya, kebutuhan industri saat ini semakin menuntut tenaga kerja yang memiliki standar kompetensi, termasuk profesi welder atau juru las.
‎
‎"Kita perlu pendampingan dan sertifikasi bagi tenaga kerja lokal. Sekarang dunia industri membutuhkan tenaga kerja yang memiliki sertifikasi kompetensi. Ini juga menjadi peluang yang harus kita siapkan bersama," jelasnya.
‎
‎Ivan mengungkapkan, HIPMI Kota Cilegon saat ini memiliki sekitar 250 anggota yang tercatat dalam surat keputusan organisasi. Sekitar 70 persen di antaranya merupakan pengusaha, sementara sisanya merupakan generasi muda yang tengah mempersiapkan diri untuk terjun ke dunia usaha.
‎
‎Melalui forum tersebut, Kadin bersama organisasi profesi berharap terbangun kolaborasi konkret antara pemerintah, aparat penegak hukum, dan pelaku usaha.
‎
‎Sebab, besarnya investasi yang masuk ke Kota Cilegon seharusnya tidak hanya tercermin dari nilai modal dan berdirinya kawasan industri baru, tetapi juga dari meningkatnya kapasitas pengusaha lokal, terserapnya tenaga kerja daerah, serta tumbuhnya ekonomi masyarakat.
‎
‎Investasi boleh terus berkembang, tetapi pengusaha lokal harus ikut menjadi pemain utama, bukan sekadar penonton di rumah sendiri.
‎
‎
‎(Yan*/Red)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama