Cilegon, (KBN.COM) – Ketika kekhawatiran terhadap musibah dan marabahaya menghantui, warga Sabrang, Kelurahan Lebak Gede, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, memilih tidak tinggal diam.
Bukan dengan kepanikan, melainkan dengan cara yang mereka yakini: bersujud, berdoa, dan memperkuat persaudaraan.
Jemaah Masjid Nurul Barokah menggelar Sholat Tolak Bala secara berjamaah pada Rabu (12/8/2026) selepas Salat Subuh. Warga berkumpul memanjatkan doa agar kampung halaman mereka senantiasa mendapat perlindungan Allah SWT dan dijauhkan dari berbagai marabahaya.
Pagi itu, masjid menjadi tempat berkumpulnya harapan. Lantunan ayat suci Al-Qur'an membuka rangkaian kegiatan, sebelum jemaah melaksanakan salat sunnah dua rakaat yang dipimpin Imam Masjid Nurul Barokah, Ustaz Saifudin.
Suasana berlangsung khidmat. Warga mengikuti rangkaian ibadah dengan penuh kekhusyukan. Dalam doa bersama, mereka memohon keselamatan bagi masyarakat Lebak Gede dan wilayah sekitarnya.
Namun bagi Ustaz Saifudin, kegiatan tersebut tidak boleh berhenti sebagai ritual semata.
Ia mengajak warga menjadikan momentum tersebut sebagai pengingat untuk terus menjaga kewaspadaan, kepedulian, dan persatuan.
“Mari kita jadikan momen ini sebagai pengingat agar kita senantiasa berhati-hati, saling peduli, dan tetap bersatu dalam kebaikan. Kekuatan kita ada pada persatuan dan ketaatan kita kepada Allah SWT,” ujar Saifudin.
Pesannya sederhana, tetapi relevan. Sebab doa tanpa kepedulian sosial akan kehilangan makna. Sebaliknya, kepedulian yang dibangun bersama dapat menjadi kekuatan masyarakat ketika menghadapi persoalan.
Warga pun mengaku mendapatkan ketenangan setelah mengikuti kegiatan tersebut.
“Kami merasa tenang dan lebih dekat satu sama lain setelah berdoa bersama. Semoga Lebak Gede selalu diberkahi, dijauhkan dari bencana, dan masyarakatnya senantiasa hidup rukun serta sejahtera,” ujar salah seorang perwakilan warga.
Yang menarik, agenda pagi itu tidak berhenti di sajadah.
Setelah doa bersama, warga kemudian sarapan bersama. Suasana yang sebelumnya khidmat berubah menjadi hangat. Warga duduk berdampingan, berbincang, dan menikmati hidangan bersama.
Di sinilah makna lain dari kegiatan tersebut muncul.
Tolak bala ternyata bukan cuma soal memohon agar musibah dijauhkan. Ada ikhtiar sosial yang ikut dibangun: saling mengenal, saling peduli, dan saling menguatkan.
Masjid Nurul Barokah pun tidak sekadar menjadi tempat warga menunaikan ibadah. Masjid menjadi ruang perjumpaan masyarakat, tempat nilai keagamaan bertemu dengan kehidupan sosial.
Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin sibuk, tradisi berkumpul dan makan bersama setelah berdoa menjadi pengingat bahwa persatuan tidak selalu dibangun melalui sesuatu yang besar.
Kadang, ia cukup dimulai dari satu sajadah, satu doa, dan satu meja makan yang mempertemukan warga.
Warga berharap kegiatan keagamaan seperti ini dapat terus digelar secara rutin. Bukan hanya untuk memohon perlindungan, tetapi juga menjaga kerukunan dan memperkuat solidaritas masyarakat Lebak Gede.
Sebab, jika bala datang, masyarakat yang kuat bukan hanya mereka yang banyak berdoa.
Tetapi juga mereka yang terbiasa berdiri bersama.
(Genta / Red*)

إرسال تعليق