Rupiah Lemah dan Pasar Global Lesu, Johan Singandaru Sorot Strategi “Merdeka Ekspor” Komoditas Tropis dan Hilirisasi UMKM

                 Keterangan Foto: Johan Sigandaru                                   (Wakil Ketua Bidang Litbang DPD GPEI Banten)


‎Cilegon, (KBN.COM) – Ketidakpastian geopolitik global dan tren pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level terendah baru-baru ini berdampak langsung pada fluktuasi nilai perdagangan internasional Provinsi Banten. Menghadapi guncangan makroekonomi ini, Dewan Pengurus Daerah Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (DPD GPEI) Provinsi Banten menyerukan langkah taktis berupa akselerasi gerakan “Merdeka Ekspor” berbasis komoditas tropis serta penguatan hilirisasi produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
‎Wakil Ketua Bidang Penelitian & Pengembangan (Litbang) dan Organisasi DPD GPEI Banten Johan Singandaru, memberikan keterangan bahwa pertumbuhan nilai ekspor nonmigas Banten secara agregat mengalami tekanan akibat lesunya permintaan dari negara-negara mitra dagang tradisional seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa. Kendati demikian, pelemahan mata uang rupiah di sisi lain memberikan momentum angin segar berupa keunggulan harga bagi produk-produk lokal yang murni berbasis bahan baku domestik (local content).
‎“Situasi global saat ini memang penuh ketidakpastian, dan penurunan nilai ekspor di sektor manufaktur padat modal akibat pelemahan rupiah tidak bisa dihindari. Namun, kondisi ini justru menjadi peluang emas bagi komoditas pertanian, perikanan, dan produk tropis lokal Banten yang tidak bergantung pada bahan baku impor,” ungkap Johan Singandaru, yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Indoguna Pasific Nusantara. Pungkas Johan
‎Johan Sigandaru Mempertegas sejalan dengan momentum gerakan “Merdeka Ekspor Komoditas Unggulan Banten” bersama Badan Karantina Indonesia (Barantin) di Bandara Soekarno-Hatta baru-baru ini, yang berhasil melepas komoditas hayati senilai Rp40,8 miliar ke pasar Asia. Data karantina mencatat lonjakan signifikan dari komoditas tumbuhan (naik 25,4%), sektor hewan (naik 21%), hingga ekspor hasil perikanan Banten yang melesat hingga 279 persen. Komoditas tropis seperti manggis, sarang burung walet, dan kepiting terbukti tangguh menjadi penopang baru devisa daerah.
Harapan dari Rakernas GPEI 2026: Genjot Devisa Negara:
‎Menghadapi tantangan global ini, Johan menegaskan bahwa momentum pembenahan dari daerah harus sejalan dengan arah kebijakan nasional. Terlebih, pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) GPEI Tahun 2026, isu utama yang diangkat secara nasional adalah “Peran Aktif GPEI Meningkatkan Ekspor Nasional dan Devisa Negara”.
‎Dalam konteks tersebut, Johan Singandaru menaruh harapan besar agar DPD GPEI Banten mampu menjadi motor penggerak utama dalam merealisasikan visi Rakernas 2026 tersebut di tingkat regional.
‎“Melalui tema Rakernas tahun ini, harapan kami di jajaran pengurus DPD GPEI Banten adalah dapat berperan aktif menjembatani para pelaku usaha lokal agar naik kelas menjadi eksportir tangguh. Kami ingin memastikan kontribusi konkret Banten dalam menyumbang devisa negara tidak terhambat oleh masalah administratif data maupun tingginya biaya logistik. Sinergi antara pusat dan daerah harus diperkuat demi kejayaan ekspor nasional,” tambah Johan.
Solusi Strategis GPEI Banten Hadapi Gejolak Global
‎Untuk mengamankan momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus mewujudkan amanat Rakernas GPEI 2026, Johan Singandaru menawarkan empat formula solusi strategis kepada pemerintah daerah:
‎Percepatan Hilirisasi Produk UMKM Pertanian & Perikanan:
‎Mendorong pelaku usaha tidak lagi mengekspor bahan mentah (raw material). Komoditas tropis mentah harus diolah menjadi produk jadi atau setengah jadi di dalam wilayah Banten agar memiliki nilai tambah (added value) berlipat ganda saat dilepas ke pasar internasional.
Implementasi Massal Sertifikasi Traceability (Ketertelusuran):
‎Mengatasi hambatan non-tarif global dengan memfasilitasi UMKM Banten agar menguasai sistem ketertelusuran produk digital. Pembeli internasional saat ini menuntut pemenuhan standar mutu tinggi, aspek higienitas, dan pengelolaan produksi yang ramah lingkungan.
‎Pengaktifan “Klinik Ekspor” Berkelanjutan:
‎Berkolaborasi dengan jajaran Disperindag Banten dan Balai Karantina untuk memberikan pendampingan regulasi kepabeanan, riset pasar global, dan penguasaan skema pembiayaan internasional secara intensif bagi para eksportir-importir muda Banten.
Reformasi Administrasi Pencatatan Devisa Daerah:
‎Mendesak perbaikan tata kelola data di sistem Bea Cukai dan BPS agar ekspor komoditas tropis yang dihasilkan dari hulu wilayah Banten tetap tercatat sepenuhnya sebagai kontribusi ekonomi Banten, bukan diklaim oleh provinsi pelabuhan muat seperti DKI Jakarta.
‎“Jika hilirisasi UMKM berjalan, pengawasan mutu dari hulu diperketat, dan sistem pencatatan data dibenahi, GPEI Banten optimistis kita dapat menjawab tantangan Rakernas 2026 dalam mendongkrak devisa, sekaligus mencetak eksportir-eksportir muda baru yang tangguh menguasai pasar dunia,” Ujar Johan
(Yan*/Red)


Post a Comment

أحدث أقدم