‎Menjelang Muktamar NU Mencari Format Ideal Kepemimpinan NU dan Menjawab Tantangan Zaman

‎  
 Keterangan Foto: Abdul Jabar
Ketua MA IPNU Banten

Tulis Oleh: Abdul Jabar

‎CILEGON, (KBN,COM) - Muktamar ke-35,  Nahdlatul Ulama akan berlangsung di Tambak beras, Jombang, Jawa Timur. Muktamar adalah  forum tertinggi jam‘iyah Nahdlatul Ulama. Di sini NU tidak hanya memilih pengurus baru, tetapi juga menetapkan arah gerak lima tahun ke depan, NU Organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan internasional. Senin, 10/08/2026

‎Menjelang Muktamar, sejumlah nama mulai mengkerucut disebut-sebut sejumlah publik, Baik dari kalangan ulama dan birokrat.  ada KH. Nazaruddin Umar, KH. Zulfa Mustofa, KH. Abdul Hakim Mahfudz, KH. Yusuf Chudori, KH. Abdul Ghaffar Rozin, KH. Abdussalam Shochib, H. Gudfan Arif Ghofur, dan KH. Masykuri Abdillah. Dari kalangan pengurus PBNU dan tokoh nasional muncul nama KH. Yahya Cholil Staquf, Hery Haryanto Azumi, dan KH. Marsudi Syuhud.

‎Banyaknya nama ini menunjukkan NU kaya kader. Tugas kita bukan saling membandingkan, melainkan memastikan proses pemilihan berjalan sesuai adab NU.

‎Format Kepemimpinan Ideal: Basyari, Teknokratis, Kolektif.

‎NU lahir dari pesantren dengan ruh 1926: "Al-‘Ilmu, Al-Akhlaq, Al-Khidmah. Ilmu". agar menjadi rujukan umat. Akhlak agar menjadi teladan. Khidmah agar bekerja untuk jam‘iyah, bukan kepentingan pribadi.

‎Namun tantangan zaman menuntut lebih. NU ke depan butuh pemimpin dengan format "Basyari, Teknokratis, dan Kolektif"

‎Basyari berarti membumi dan dekat dengan umat. Pemimpin yang disambut tahlil saat pulang ke ranting, bukan karpet merah. Yang masih bisa dihubungi warga tengah malam.

‎Teknokratis dan Melek 3D: 

Paham _Digital, Diplomasi, Data_. Mampu mengelola dakwah di era algoritma, membangun relasi dengan negara dan dunia, serta mengambil keputusan berbasis data. Kita butuh pemimpin yang santri sekaligus teknokrat.


Kolektif-Kolaboratif

Menguatkan sinergi _Syuriyah_ dan _Tanfidziyah_. Syuriyah menjaga haluan dan wibawa keagamaan. Tanfidziyah menjalankan roda organisasi dan manajemen. Keduanya ditopang Dewan Pakar lintas bidang.


‎Model Pemilihan dan Akuntabilitas:

‎Secara AD/ART, NU memiliki dua metode. "Rois Aam Syuriyah" dipilih melalui "AHWA": Ahlul Halli wal ‘Aqdi_ oleh para ulama sepuh dengan musyawarah dan istikharah. Sementara "Ketua Umum Tanfidziyah" dipilih melalui _WAN_: satu suara untuk setiap PWNU, PCNU, dan PCINU.

‎Agar kepemimpinan terukur, perlu ada "Kontrak Khidmah 5 Tahun". Berisi target konkret seperti penguatan ekonomi umat, regenerasi, dan digitalisasi. Evaluasinya dilakukan terbuka setiap tahun. Dengan ini Muktamar kembali ke adabnya: adu gagasan, nihil politik uang, dan legawa menerima hasil.

‎Tiga Agenda dan Lima Tantangan Besar
‎Ke depan NU harus fokus pada tiga agenda:

‎1. Regenerasi: Banom IPNU, IPPNU, GP Ansor, Fatayat, dan Muslimat harus mendapat ruang nyata di struktur PBNU. Estafet kepemimpinan harus berjalan.

‎2. Ekonomi Umat : Aset NU berupa tanah, RS, dan sekolah harus dikelola profesional. Fokus pada koperasi, BMT, wakaf produktif, dan UMKM agar warga NU naik kelas.

‎3. Menjaga Persatuan :NU harus tetap menjadi rumah besar yang menaungi semua. Jauh dari politik praktis dan faksionalisme. NU adalah penjaga NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

‎Untuk mewujudkan itu, ada lima tantangan besar:
Pertama, kesenjangan regenerasi antara ulama sepuh dan kader muda.
Kedua, profesionalisasi manajemen aset agar akuntabel dan berdampak.
Ketiga, tekanan politik dan perang narasi digital yang menuntut NU punya mesin dakwah cepat dan beradab.
Keempat, relevansi isu global seperti perubahan iklim, kemiskinan, dan AI yang harus dijawab dengan fiqih dan gerakan sosial.
Kelima, penguatan diplomasi internasional agar NU menjadi rujukan Islam moderat dunia.

Penutup:
‎Muktamar bukan soal menang dan kalah. Muktamar adalah majelis islah. Di Tambakberas kita memilih masa depan NU: masa depan yang tetap berakar di pesantren, tetapi juga melek internet.

‎Titip dari Banten: pilihlah pemimpin yang jejaknya ada di majelis taklim. Yang ketika dipanggil warga pukul 23.00 tetap datang. Selalu dekat dengan warga masyarakat NU dimana berada.

Karena NU tidak akan besar karena satu orang. NU besar karena ada ribuan kiai, jutaan santri, dan semangat khidmah, yang terus dijaga bersama. Jadikan NU tempat Berhidmat dan mengabdikan diri semata-mata untuk mencari ridho Allah SWT. Dan menjaga warisan Kyai Mbah Hasim As'ari.


‎(Yan/Red*)

Post a Comment

أحدث أقدم