Cilegon, (KBN.COM) – Jalan-jalan kampung di wilayah Cilentrang, Purwakarta, Kota Cilegon, mendadak semarak. Bendera Merah Putih berkibar di sepanjang jalan, umbul-umbul menghiasi sudut kampung, sementara warga dari berbagai usia tumpah ruah mengikuti pawai kemerdekaan.
Bukan sekadar arak-arakan, pawai yang digelar secara swadaya tersebut menjadi panggung sederhana bagi warga untuk merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan cara mereka sendiri.
Anak-anak, remaja hingga orang tua berjalan beriringan. Mereka tampil dalam beragam kostum, mulai dari pakaian adat nusantara, busana pahlawan, hingga seragam hasil kreasi warga. Lagu-lagu perjuangan turut mengiringi langkah peserta. Pekik “Merdeka!” pun sesekali menggema di sepanjang jalan.
Semangat itu terasa bukan hanya dari peserta pawai. Warga yang berada di rumah maupun di pinggir jalan ikut memberikan tepuk tangan dan senyum kepada rombongan yang melintas.
Yang menarik, seluruh rangkaian kegiatan tersebut lahir dari inisiatif masyarakat. Sebelum pawai digelar, warga bergotong royong membersihkan lingkungan, menata lokasi berkumpul hingga menyiapkan berbagai kebutuhan acara.
Bagi warga, kemerdekaan tidak cukup dirayakan dengan memasang bendera atau mengenakan kostum bernuansa perjuangan. Ada nilai yang ingin terus dirawat: kebersamaan.
“Kami ingin merayakan kemerdekaan bukan hanya dengan hiasan, tapi dengan hati yang bersatu. Semangat pahlawan yang berjuang bersatu untuk negara, kami wujudkan dengan kebersamaan seperti ini,” kata perwakilan warga, Fatulloh.
Di sejumlah titik, warga juga menyiapkan konsumsi sederhana hasil swadaya untuk peserta pawai. Tidak mewah, tetapi justru di situlah terasa makna perayaan kemerdekaan yang sesungguhnya: berbagi dari apa yang dimiliki.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan berkumpul bersama di balai warga. Doa bersama dipanjatkan untuk kemajuan bangsa, sebelum warga menikmati hidangan sederhana yang disiapkan secara gotong royong.
Pawai Kemerdekaan di Cilentrang menjadi gambaran kecil tentang bagaimana nasionalisme tumbuh dari lingkungan paling dekat dengan masyarakat.
Di tengah perubahan zaman dan kehidupan yang semakin individualistis, tradisi seperti ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan semata cerita tentang masa lalu. Ia juga tentang bagaimana masyarakat hari ini menjaga persaudaraan, merawat toleransi, memperkuat kepedulian dan membangun lingkungan secara bersama-sama.
Dari jalan kampung yang sederhana, semangat Merah Putih itu terus hidup.
Bukan lewat seremoni yang megah, melainkan melalui langkah kaki warga, senyum anak-anak, tepuk tangan tetangga, dan gotong royong yang masih dipelihara.
Kemerdekaan, pada akhirnya, bukan hanya untuk dikenang. Ia harus dirasakan, dirawat, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
(Genta/Red*)

إرسال تعليق