Cilegon, (KBN.COM) – Menjaga masjid tetap hidup bukan hanya soal memastikan pintunya terbuka setiap waktu salat. Bagi Pengurus Masjid Nurul Barokah di kawasan Sabrang, Kelurahan Lebak Gede, Kecamatan Pulomerak, menjaga masjid berarti menghadirkan kegiatan yang membuat warga terus datang, belajar, bersilaturahmi dan tumbuh bersama.
Di balik upaya tersebut, sosok Haji Saifudin menjadi salah satu penggerak yang terus berupaya menjaga keberlangsungan kegiatan keagamaan di Masjid Nurul Barokah.
Salah satu perhatian utamanya adalah kajian religi yang rutin digelar setiap Senin malam selepas salat Magrib. Kegiatan ini tidak sekadar dipertahankan sebagai agenda rutin, tetapi terus diarahkan agar memiliki manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Bagi Haji Saifudin, kajian di masjid harus mampu menjawab kebutuhan jamaah. Karena itu, kualitas materi dan cara penyampaian menjadi bagian yang terus diperhatikan. Kajian diupayakan tetap komunikatif, mudah dipahami dan memiliki kaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari.
Langkah tersebut menjadi penting di tengah tantangan menjaga minat masyarakat terhadap kegiatan keagamaan, khususnya generasi muda.
Masjid Nurul Barokah pun diarahkan bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga ruang belajar yang terbuka bagi semua kalangan. Anak muda diharapkan tidak sekadar datang ketika salat, tetapi merasa memiliki ruang untuk belajar, berdiskusi dan membangun kegiatan positif di lingkungan masjid.
Upaya Haji Saifudin juga mendapat dukungan dari warga. Partisipasi masyarakat, baik melalui tenaga, pikiran maupun dukungan sukarela, menjadi modal penting untuk menjaga berbagai kegiatan masjid tetap berjalan.
Di titik inilah keberadaan pengurus masjid menjadi strategis. Mereka bukan sekadar mengelola aktivitas, tetapi juga dituntut mampu membaca kebutuhan jamaah dan menghadirkan program yang relevan dengan perkembangan masyarakat.
Kajian religi kemudian menjadi salah satu pintu masuk untuk membangun kedekatan tersebut.
Setiap Senin malam, jamaah berkumpul selepas Magrib. Ustaz Uwaes Alqarni menyampaikan materi keagamaan dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan warga. Jamaah pun diberi ruang untuk bertanya dan berdiskusi, Senin malam, 18 Agustus 2026.
Suasana seperti itu membuat masjid tidak berhenti sebagai bangunan fisik. Ia menjadi ruang sosial tempat warga saling mengenal, mempererat silaturahmi dan menumbuhkan kepedulian.
Bagi Haji Saifudin, menjaga keberlangsungan kegiatan semacam ini adalah bagian dari ikhtiar agar Masjid Nurul Barokah tetap memiliki peran di tengah masyarakat.
Terlebih, tantangan ke depan bukan hanya bagaimana membuat jamaah tetap hadir, tetapi juga bagaimana memastikan generasi muda merasa dekat dengan masjid.
Karena itu, pengembangan kegiatan menjadi penting. Masjid perlu hadir dengan pendekatan yang ramah, terbuka dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat tanpa kehilangan nilai-nilai keagamaannya.
Dari Sabrang, ikhtiar itu terus berjalan. Haji Saifudin bersama jajaran pengurus Masjid Nurul Barokah berusaha menjaga agar kajian religi tetap menjadi cahaya ilmu sekaligus jembatan silaturahmi warga.
Sederhana, tetapi penting: masjid tidak hanya dibangun untuk berdiri, melainkan dihidupkan agar terus memberi manfaat.
Dan bagi Masjid Nurul Barokah, salah satu cara menghidupkannya adalah dengan memastikan ilmu terus mengalir, jamaah terus berkumpul, serta generasi muda memiliki alasan untuk tetap dekat dengan masjid.
(Genta /Red*)

Posting Komentar