Dandim 0623 Cilegon Ajak Mahasiswa Rawat Nalar Kebangsaan, Utamakan Dialog Ketimbang Turun ke Jalan


Cilegon, (KBN.COM) –
Di tengah derasnya arus informasi dan meningkatnya polarisasi di ruang publik, ruang-ruang dialog dinilai menjadi instrumen penting untuk menjaga nalar kebangsaan. Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Wawasan Kebangsaan bertajuk "Merawat Nalar dan Keutuhan Bangsa" yang digelar organisasi Cipayung Plus Kota Cilegon, Kamis, 26 Juni 2026, di Coffee Paradiso Cilegon.

Forum tersebut dihadiri sejumlah organisasi kemahasiswaan, mulai dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), hingga Ikatan Mahasiswa Cilegon (IMC). Hadir sebagai narasumber utama, Komandan Kodim 0623/Cilegon Letkol Inf Imam Buchori.

Dalam pemaparannya, Imam Buchori menegaskan bahwa mahasiswa tetap memiliki posisi strategis sebagai agent of change sekaligus social control yang bertugas mengawal arah pembangunan bangsa. Namun, menurutnya, fungsi tersebut perlu dijalankan melalui cara-cara yang mengedepankan nalar, argumentasi, dan dialog yang konstruktif.

"Forum diskusi seperti ini penting untuk meluruskan informasi yang simpang siur di tengah masyarakat. Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan turun ke jalan. Ketika masih ada ruang dialog, maka diskusi adalah pilihan yang lebih baik," ujarnya.

Ia menilai derasnya penyebaran informasi yang belum terverifikasi kerap memicu kesalahpahaman hingga memperuncing konflik sosial. Karena itu, mahasiswa dituntut tidak hanya kritis, tetapi juga mampu menjadi sumber informasi yang benar serta memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak mudah terpengaruh hoaks.

Lebih jauh, Dandim menyatakan komitmennya menjadikan Kodim 0623/Cilegon sebagai jembatan komunikasi antara mahasiswa, masyarakat, dan Pemerintah Kota Cilegon. Menurutnya, institusi TNI tidak anti terhadap kritik selama disampaikan secara objektif dan bertujuan membangun.

"Kami membuka ruang komunikasi yang seluas-luasnya. Forum kebangsaan seperti ini akan terus kami dorong agar berlangsung secara rutin sebagai wadah bertukar gagasan, menyampaikan aspirasi, sekaligus mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat," katanya.

Imam menambahkan, sinergi antara aparat, pemerintah, dan kalangan mahasiswa menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas daerah sekaligus memperkuat persatuan bangsa. Ia berharap organisasi kemahasiswaan terus hadir sebagai mitra kritis yang mampu memberikan masukan berbasis data serta menawarkan solusi atas berbagai persoalan publik.

Di akhir penyampaiannya, Imam kembali mengingatkan bahwa peran mahasiswa tidak berhenti pada fungsi pengawasan terhadap kebijakan pemerintah. Mereka juga memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan gagasan dan pemecahan masalah yang dapat menjadi kontribusi nyata bagi pembangunan.

"Mahasiswa adalah agent of social control dan agent of change. Tugasnya bukan hanya mengkritisi kebijakan, tetapi juga memetakan persoalan dan menghadirkan solusi terbaik demi kemajuan bangsa," tutupnya.

(Yan/Red*)

Post a Comment

أحدث أقدم