Genap 25 Tahun, RSUD Cilegon Gaspol Benahi Layanan: Dari Antrean hingga UGD Terintegrasi


Cilegon, (KBN.COM) –
Di usia seperempat abad, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Cilegon tak ingin sekadar merayakan seremoni. Momentum hari jadi ke-25 justru dijadikan titik tekan untuk berbenah total. Mengusung tema “Juare dalam Melayani, Tumbuh Menuju Cilegon Maju”, RSUD menegaskan arah: layanan kesehatan yang makin cepat, terukur, dan berorientasi pada kepuasan pasien.


Peringatan yang digelar di halaman RSUD, Kamis (30/4/2026), menjadi ruang refleksi sekaligus panggung komitmen. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala RSUD Cilegon, dr. Hj. Ratu Robiatul Alawiyah, MPH, tak menutup mata—pelayanan yang sudah berjalan baik belum cukup. Standar harus terus dinaikkan.


“Pelayanan tidak boleh berhenti pada kondisi saat ini. Evaluasi dan quality control harus jadi budaya, supaya semua lini berjalan optimal dan sesuai ekspektasi masyarakat,” ujarnya, tegas.


Langkah pembenahan tak setengah hati. RSUD mulai merapikan seluruh rantai layanan pasien—dari pintu masuk, proses administrasi, hingga penanganan medis. Tak hanya fokus pada poliklinik dan Instalasi Gawat Darurat (UGD), evaluasi juga menyentuh alur rujukan dan koordinasi antarunit yang selama ini kerap jadi titik rawan keluhan.


Di sisi infrastruktur, RSUD juga tancap gas. Gedung baru disiapkan untuk menambah kapasitas layanan. Tahap awal, lantai satu ditargetkan mulai beroperasi pada Agustus mendatang, termasuk penguatan layanan UGD yang akan diintegrasikan dengan pelayanan persalinan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK).


“Operasional dilakukan bertahap. Ini bagian dari strategi peningkatan kapasitas sekaligus kualitas layanan,” jelasnya.


Langkah ekspansi ini bukan tanpa alasan. Di tengah menjamurnya rumah sakit swasta di Cilegon dan sekitarnya, RSUD dituntut adaptif. Persaingan tak lagi soal fasilitas semata, tetapi juga kecepatan layanan, kepastian tindakan medis, hingga kenyamanan pasien.


Ketua DPRD Kota Cilegon, Rizki Khairul Ichwan, memberi catatan tajam. Ia menyoroti persoalan klasik yang masih dikeluhkan masyarakat: antrean panjang dan lambannya proses rujukan.


“Poli dan UGD adalah wajah utama rumah sakit. Harus cepat, responsif, dan komunikatif—terutama dalam kondisi darurat,” tegasnya.


Meski begitu, ia tetap mengapresiasi kinerja RSUD yang dinilai sudah berada di jalur positif. Namun, menurutnya, usia 25 tahun harus menjadi momentum akselerasi, bukan sekadar evaluasi normatif.


Hal senada disampaikan Asisten Daerah I Kota Cilegon, H. Mahmudin. Ia menilai usia 25 tahun adalah fase matang bagi sebuah institusi layanan publik. Sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), RSUD dituntut lebih lincah dalam mengelola keuangan, tanpa meninggalkan fungsi sosialnya.


“Profesionalisme pengelolaan harus berbanding lurus dengan peningkatan kualitas layanan dan kesejahteraan internal,” ujarnya.


Di tengah tekanan kompetisi, RSUD Cilegon diharapkan tetap menjadi benteng layanan kesehatan yang terjangkau. Bukan hanya hadir sebagai pilihan, tetapi menjadi rujukan utama masyarakat lintas lapisan.


Ulang tahun ke-25 ini pada akhirnya bukan sekadar penanda usia, melainkan alarm untuk berlari lebih cepat. Dengan dukungan pemerintah daerah, DPRD, dan masyarakat, RSUD Cilegon ditargetkan naik kelas—menjadi rumah sakit yang bukan hanya layak, tetapi juga unggul dan membanggakan.


“Selamat ulang tahun ke-25. Semoga RSUD Kota Cilegon semakin maju, profesional, dan benar-benar menjadi juara dalam melayani,” pungkas Mahmudin.


(Yan/Red*)

Post a Comment

أحدث أقدم