Cilegon, (KBN.COM) — Halal bihalal yang digelar Pengurus Besar Al-Khairiyah bersama Duta Besar Republik Islam Iran, Mohammad Boroujerdi, tak sekadar menjadi ajang saling bermaafan pasca-Idul Fitri. Di balik nuansa silaturahmi, forum ini berubah menjadi ruang artikulasi sikap—menggabungkan isu keumatan, solidaritas global, hingga kritik terhadap dinamika geopolitik internasional.
Acara yang berlangsung di Gedung PB Al-Khairiyah, Senin (30/3/2026), dihadiri jajaran pengurus, tokoh agama, serta perwakilan Kedutaan Besar Iran. Ketua Umum PB Al-Khairiyah, KH Ali Mujahidin—yang akrab disapa Mumu—membuka sambutan dengan tradisi khas Syawal: permohonan maaf lahir dan batin.
“Atas nama pribadi dan keluarga besar Al-Khairiyah, kami menyampaikan minal aidzin wal faidzin. Semoga segala khilaf diampuni,” ujarnya.
Namun, sambutan itu segera bergeser dari suasana seremonial menuju pesan yang lebih substantif. Mumu menegaskan kebanggaannya atas kehadiran Duta Besar Iran di tengah keluarga besar Al-Khairiyah, sekaligus menyampaikan dukungan moral terhadap masyarakat Iran di tengah konflik yang disebutnya sebagai bentuk ketidakadilan global.
“Kehadiran ini bukan sekadar kunjungan diplomatik. Ini adalah bentuk kebersamaan dan solidaritas umat,” katanya.
Dalam pidatonya, Mumu mengarahkan perhatian hadirin pada tragedi kemanusiaan di Palestina, khususnya Gaza. Ia menilai, solidaritas umat Islam tidak boleh berhenti pada empati simbolik, melainkan harus diwujudkan dalam sikap nyata.
Ia juga menyinggung isu sensitif yang kerap memecah belah umat: perbedaan mazhab. Dengan nada tegas, Mumu mengajak untuk melampaui sekat tersebut.
“Rasulullah tidak pernah mempertentangkan Sunni dan Syiah. Yang beliau tekankan adalah persatuan umat Islam,” ujarnya.
Pernyataan itu sekaligus menjadi penegasan posisi Al-Khairiyah yang ingin mendorong narasi persatuan di tengah kompleksitas konflik global yang sering menyeret identitas keagamaan.
Tak berhenti pada wacana, forum tersebut juga diwarnai seruan yang lebih konkret. Mumu mengajak keluarga besar Al-Khairiyah untuk mulai mempertimbangkan boikot terhadap produk-produk Amerika Serikat sebagai bentuk tekanan moral atas kebijakan global yang dinilai tidak adil.
Seruan ini menegaskan bahwa ruang keagamaan kini tak lagi steril dari isu politik global—justru menjadi medium mobilisasi opini dan sikap kolektif.
Dari pihak Iran, pesan disampaikan melalui juru bicara Duta Besar Mohammad Boroujerdi. Dalam pernyataannya, pihak Iran mengecam keras tindakan yang disebut sebagai agresi dan pelanggaran kedaulatan, termasuk serangan terhadap fasilitas sipil dan pendidikan.
Pernyataan tersebut juga memuat kemarahan publik Iran atas korban yang jatuh, termasuk anak-anak, serta seruan kepada umat Islam dunia untuk bersatu dalam menghadapi ketidakadilan global.
Mereka menegaskan komitmen untuk terus melawan segala bentuk penindasan dan menyerukan solidaritas internasional sebagai kekuatan moral utama.
Momentum halal bihalal ini pada akhirnya menunjukkan wajah baru diplomasi kultural—di mana pertemuan berbasis tradisi keagamaan bertransformasi menjadi ruang dialog politik dan kemanusiaan.
Al-Khairiyah, melalui forum ini, tak hanya memperkuat relasi dengan Iran, tetapi juga menegaskan posisinya dalam isu-isu global yang menyentuh umat Islam.
Di tengah dunia yang kian terfragmentasi, pesan yang coba diangkat sederhana namun tajam: persatuan umat dan keberanian bersikap adalah dua hal yang tak bisa lagi ditunda.
(Yan/Red*)

Posting Komentar