Ramadhan sebagai Sekolah Karakter: Rahmatulloh Sebut Momentum Bangun Muslim Unggul


Cilegon, (KBN.COM) —
Bulan suci Ramadhan tak sekadar menjadi ritual tahunan yang sarat ibadah. Di balik puasa dan tarawih, tersimpan dimensi pendidikan karakter yang kuat. Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Kota Cilegon, Rahmatulloh, menegaskan Ramadhan adalah momentum strategis membentuk pribadi Muslim yang unggul dan berakhlak mulia.


“Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ini adalah proses pendidikan karakter yang komprehensif. Di dalamnya ada latihan kesabaran, disiplin, kejujuran, dan empati,” ujar Rahmatulloh, Rabu (18/2/2026).


Menurut dia, pendidikan dalam Islam tak berhenti pada transfer pengetahuan. Esensinya adalah pembentukan nilai moral dan spiritual. Selama Ramadhan, umat Muslim digembleng melalui puasa, shalat malam, tadarus Al-Qur’an, hingga sedekah. Rangkaian ibadah itu, kata dia, merupakan metode pembinaan diri yang sistematis.


Rahmatulloh menilai, di tengah arus globalisasi dan kemajuan teknologi, pembentukan karakter menjadi semakin mendesak. Gaya hidup instan dan kecenderungan hedonisme kerap menggerus nilai-nilai moral.


“Ramadhan hadir sebagai rem sekaligus kompas. Ia mengingatkan kembali pada nilai integritas, tanggung jawab, dan komitmen terhadap kebaikan,” tegasnya.


Dalam konteks ini, Ramadhan bukan sekadar tradisi spiritual, melainkan ruang refleksi kolektif. Momentum untuk mengembalikan orientasi hidup pada nilai-nilai keislaman yang substansial.


Secara konseptual, Ramadhan dapat dipandang sebagai “sekolah spiritual”. Umat Islam dilatih disiplin waktu melalui sahur dan berbuka, mengendalikan diri dari perilaku negatif, serta memperbanyak ibadah sunnah seperti tarawih dan tadarus.


Sejarah Islam pun mencatat sejumlah peristiwa penting terjadi di bulan ini. Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar—sebuah momentum agung yang menegaskan Ramadhan sebagai bulan pembelajaran. Nabi Muhammad SAW memanfaatkan Ramadhan sebagai fase intensif pengajaran dan pembinaan umat.


Tradisi itu berlanjut hingga kini. Lembaga pendidikan Islam menggelar pesantren kilat, kajian tematik, hingga program sosial berbasis masjid. Semua dirancang untuk memperkuat fondasi akhlak generasi muda.


Rahmatulloh menjelaskan, karakter unggul dibangun melalui konsistensi. Puasa melatih kontrol diri dan manajemen waktu. Shalat tarawih membangun ketekunan. Tadarus Al-Qur’an menumbuhkan kedekatan spiritual. Sementara zakat dan sedekah menanamkan kepedulian sosial.


“Jika nilai-nilai Ramadhan ini dipertahankan sepanjang tahun, maka kita sedang menyiapkan generasi Muslim yang tangguh secara moral dan spiritual,” ujarnya.


Sejumlah studi sosial bahkan menunjukkan peningkatan kedisiplinan dan produktivitas masyarakat selama Ramadhan. Spirit kolektif untuk berbuat baik menguat, solidaritas sosial meningkat, dan aktivitas keagamaan melonjak signifikan.


Bagi Rahmatulloh, tantangan sesungguhnya bukan pada menjalani Ramadhan, melainkan menjaga ruh pendidikannya setelah bulan suci berlalu.


“Ramadhan adalah kawah candradimuka. Ia menempa, membentuk, dan menguatkan. Tinggal bagaimana kita menjaga bara pendidikan itu tetap menyala sepanjang tahun,” pungkasnya.


(Yan/Red*)

Post a Comment

أحدث أقدم