Cilegon, (KBN.COM) – Di tengah hiruk pikuk Kota Baja, ada satu sudut yang menyimpan sunyi dan ketekunan. Di lingkungan Pondok Pesantren Al-Hikmah Cilegon, berdiri mushaf Al-Qur’an berukuran raksasa—sebuah karya monumental yang lahir dari doa, tahajud, dan kesabaran.
Ukurannya tak biasa: 1,8 x 1,2 meter. Setiap lembar ditulis tangan. Bukan dicetak, bukan diperbanyak mesin. Mushaf ini merupakan karya almarhum K.H. Ahmad Basharuddin, pendiri sekaligus pimpinan pesantren Al-Hikmah Lingkungan Cigading, Ciwandan Cilegon.
Saat ditemui Selasa (24/2/2026), Mukarromi, salah satu pengurus pesantren, menuturkan kisah di balik mushaf raksasa itu. Ia menyebut, proses penulisan dilakukan langsung oleh sang kiai bersama para santri pada sepertiga malam, usai menunaikan salat tahajud.
“Dengan penuh kesabaran, mushaf ini ditulis tangan bersama para santri selama kurang lebih satu tahun, dari 1990 hingga 1991,” ujar Mukarromi.
Bagi umat Islam, Al-Qur’an adalah pedoman hidup. Terlebih di bulan Ramadan, ketika lantunan ayat suci menggema lebih khusyuk dan target khatam menjadi semangat bersama. Namun di Al-Hikmah, kecintaan itu diwujudkan dalam bentuk yang jauh melampaui kebiasaan: mushaf raksasa yang ditulis dengan tangan.
Menurut Mukarromi, almarhum Kiai Ahmad Basharuddin dikenal memiliki bakat kaligrafi dan ketekunan luar biasa. Ide menulis Al-Qur’an dalam ukuran besar bukan sekadar proyek estetika, tetapi bagian dari visi pendidikan.
“Beliau diberi anugerah keterampilan kaligrafi. Dengan kreativitas dan ide yang dimiliki, beliau menulis Al-Qur’an dengan ukuran besar sebagai bentuk kecintaan dan dakwah,” tuturnya.
Prosesnya tidak instan. Setiap huruf ditorehkan dengan kehati-hatian. Setiap halaman menjadi saksi disiplin spiritual yang dibangun dari rutinitas tahajud. Sepertiga malam menjadi ruang sunyi tempat ayat-ayat suci dituliskan.
Lebih dari sekadar karya monumental, mushaf raksasa ini adalah simbol pendidikan karakter. Harapan sang kiai sederhana namun mendalam: menanamkan pribadi Qurani kepada para santri.
“Dengan wujud yang besar seperti ini, tentu akan lebih bermakna bagi semua khalayak, terutama santri-santri yang beliau ajar waktu itu,” kata Mukarromi.
Ukuran yang besar menghadirkan efek psikologis tersendiri. Ia menggetarkan, mengundang takzim, sekaligus menjadi pengingat visual bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi pusat kehidupan.
Tak hanya satu, almarhum K.H. Ahmad Basharuddin bahkan menuntaskan empat mushaf Al-Qur’an raksasa yang kini tersebar di sejumlah pondok pesantren. Sebuah warisan sunyi yang terus hidup.
Selama kurang lebih tiga dekade, mushaf raksasa di Pesantren Al-Hikmah dirawat dengan penuh kehormatan. Ia bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga sumber inspirasi lintas generasi.
Di tengah arus digitalisasi dan kemudahan akses kitab suci melalui gawai, keberadaan mushaf tulis tangan berukuran raksasa ini seperti pengingat keras: ada nilai ketekunan, adab, dan cinta yang tak bisa digantikan teknologi.
Warisan itu berdiri kokoh di Cilegon. Bukan sekadar artefak, melainkan napas dakwah yang terus menyala—mengajarkan bahwa mencintai Al-Qur’an bukan hanya dengan membacanya, tetapi juga dengan merawatnya dalam karya dan kehidupan.
(Yan/Red*)

إرسال تعليق