‎Isu Demo September, Menakar Dampak Sosial-Ekonominya

                         Dr. Syaeful Bahri, MM, CHCM,                             (Ketua Jaringan Demokrasi Banten)

CILEGON, KBN,COM - Memasuki bulan  September, terjadi  berbagai elemen gerakan masyarakat, mahasiswa, aktivis, LSM, buruh, dan kelompok masyarakat sipil menggunakan momentum “September Hitam” untuk menyuarakan kritik serta refleksi atas berbagai persoalan bangsa baik itu sosial, ekonomi, hukum, dan demokrasi. 

Ketua Jaringan Demokrasi Banten, Dr. Syaeful Bahri, MM, CHCM, mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda dan kaum intelektual, agar menjadikan momentum September sebagai ruang menyampaikan kritik secara cerdas, santun, konstitusional, dan bertanggung jawab.

‎“September tidak harus berakhir dengan aksi anarkis. Mari kita jadikan September sebagai momentum untuk menyampaikan kritik secara cerdas, santun, dan konstitusional,” ujar Syaeful Rabu, 9 September 2026

‎Menurutnya, dalam negara demokrasi, mahasiswa, aktivis, buruh, dan seluruh elemen masyarakat memiliki hak untuk kritis. Berbeda pendapat dalam menyampaikan aspirasi, bahkan turun ke jalan. Namun, kebebasan tersebut harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab untuk menjaga ketertiban dan kepentingan masyarakat.



‎“Boleh KRITIS, boleh BERBEDA, bahkan boleh TURUN KE JALAN. Tetapi tetap SANTUN, TERTIB, dan DAMAI serta tidak merugikan masyarakat" tegasnya


‎Ia mengingatkan, jangan sampai perjuangan menyampaikan aspirasi justru melahirkan persoalan baru. Aksi yang mengganggu fasilitas umum, aktivitas ekonomi, pelayanan publik, atau merugikan masyarakat luas pada akhirnya dapat mengurangi substansi perjuangan itu sendiri.

‎Karena itu, Syaeful Bahri mendorong agar kekuatan intelektual dan gerakan masyarakat diarahkan pada gagasan, data, argumentasi, solusi, serta perubahan yang konstruktif. Jangan sampai jadikan hanya keptingan politik praktis untuk kepentingan tertentu atau kelompok.

‎“Intelektual muda diukur bukan dari seberapa keras berteriak, tetapi seberapa cerdas menawarkan perubahan, katanya.
‎Lebih jauh, ia mengajak seluruh masyarakat Banten untuk menjadikan September sebagai momentum membuka lembaran baru, membangun demokrasi yang lebih dewasa, memperkuat persatuan, dan menumbuhkan harapan untuk hari esok yang lebih baik." Tegasnya

‎Perbedaan menurutnya,  jangan dipandang sebagai ancaman. Sebaliknya, perbedaan harus menjadi kekayaan dan kekuatan bersama untuk saling melengkapi, menjaga keseimbangan, serta merawat keharmonisan sosial.

‎“Mari kita buka lembaran baru. Bangun demokrasi yang dewasa, jaga persatuan, dan jadikan perbedaan sebagai kekuatan,” ajaknya.

‎Ia menegaskan bahwa demokrasi membutuhkan keberanian untuk bersuara, tetapi juga membutuhkan kedewasaan untuk menghormati hak orang lain.
‎“KRITIS tanpa ANARKIS. BERANI tanpa AROGAN. Bergerak tanpa MERUGIKAN RAKYAT,” pungkas Syaeful Bahri.




(Yan*/Red)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama