Cilegon, (KBN.COM) — Manajemen RSUD Cilegon diduga menolak pasien peserta BPJS Ketenagakerjaan yang hendak menjalani operasi penyakit kelenjar getah bening, Jumat (7/8/2026).
Pasien merupakan warga Lingkungan Kadipaten, Kelurahan Kedaleman, Kecamatan Cibeber. Sang suami, Anton, mengaku istrinya sebelumnya telah berobat di dua rumah sakit swasta dan mendapat rujukan ke RSUD Cilegon karena fasilitas operasi dinilai belum lengkap.
"Kita sudah berobat ke dua rumah sakit, saat kita mengajukan untuk operasi penyakit getah bening isteri, kita dirujuk ke RSUD, alasannya rumah sakit Hermina dan Kimia Farma mereka alat operasinya tidak lengkap," ungkapnya.
Namun, menurut Anton, dokter di RSUD Cilegon menyebut benjolan di leher istrinya belum cukup besar untuk dilakukan operasi dan hanya diberikan obat.
"Tapi saat saya ke RSUD ketemu dokter alesannya benjolan di leher isteri saya belum besar. Jadi disuruh nanti aja. Hanya diberi obat. Sedangkan di rumah sakit swasta dokternya bilang ini sudah besar dan harus segera dapat penanganan," sambungnya.
Anton mengaku khawatir karena kondisi istrinya terus menurun, ditandai dengan berkurangnya nafsu makan dan berat badan yang menyusut. Ia juga memastikan BPJS Ketenagakerjaan miliknya masih aktif.
"Nafsu makan udah kurang, isteri saya tambah kurus. BPJS saya aktif tiap bulan saya bayar dari gaji saya yang dipitong, dan untuk berobat ini ada rekomendasi ditanda tangani oleh pak direktur,. Kenapa tidak dilayani dengan baik, malah seolah menolak dengan mengatakan benjolan belum besar, sedangkan isteri saya sudah beberapa bulan menderika sakit tenggorokan dan tidak nafsu makan," jelasnya.
Sementara itu, Direktur RSUD Cilegon Robiatul Adawiyah atu yang akrab disapa sapa dr. Elin saat dikonfirmasi Sabtu 8 Agustus 2026 mengatakan, terkait adanya dugaan penolakan tersebut dibantah oleh Direktur RSUD Kota Cilegon, Ratu Robiatul Alawiyah. Ia menjelaskan bahwa yang bersangkutan sudah mendapatkan penanganan medis dengan baik.
"Pasien sudah ditangani di RSUD Kota Cilegon beberapa kali oleh Dokter spesialis penyakit dalam dan sudah diberikan terapi serta sudah dilakukan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium dan USG Tiroid. Dari hasil tersebut masih ditemukan hasil lab yang masih tinggi, hal ini beresiko jika dilakukan pembedahan. Jadi saat ini masih dalam pemantauan dan diberikan terapi dahulu, bukan kami menolak operasi tetapi ini untuk kebaikan pasien dan dokter karena efek resiko td jika dipaksakan utk tindakan operasi,"
Berdasarkan catatan rekam medis, kata Ratu Robiatul Alawiyah, pasien tersebut Diagnosa Struma Difusa Toxic, suspek Thyroid Heart Disease.
(Yan/Red*)

Posting Komentar