Pekalongan (KBN,COM) – Guru Besar Bidang Tafsir Maqashidi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Hasani Ahmad Said, M.A., menjadi narasumber utama dalam seminar akademik yang diselenggarakan Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (IAT), Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) Pekalongan, Kamis, 23 Juli 2026. Seminar mengangkat tema "Dari Munasabah menuju Maqashidi: Pendekatan Integratif dalam Kajian Tafsir Al-Qur'an", yang dihadiri oleh dosen, mahasiswa, peneliti, serta pemerhati studi Al-Qur'an dari berbagai perguruan tinggi.
Dalam paparannya, Prof. Hasani Ahmad Said menjelaskan bahwa perkembangan studi tafsir Al-Qur'an terus mengalami dinamika seiring munculnya berbagai pendekatan baru yang berupaya menghadirkan pemahaman Al-Qur'an secara lebih komprehensif dan kontekstual. Salah satu pendekatan yang kini semakin mendapat perhatian adalah tafsir maqashidi, yaitu metode penafsiran yang berupaya menggali tujuan-tujuan (maqāṣid) di balik pesan-pesan Al-Qur'an sehingga nilai-nilainya dapat diterapkan secara relevan dalam kehidupan masyarakat modern. Saat Hubungi WhatsApp. Pada Senin, 03 Agustus 2026.
Menurut Prof. Hasani, pengembangan tafsir maqashidi tidak berarti meninggalkan khazanah klasik. Sebaliknya, pendekatan tersebut justru dibangun di atas fondasi metodologi tafsir yang telah berkembang selama berabad-abad, termasuk kajian munāsabah, yakni ilmu yang mengkaji hubungan dan keterkaitan antarayat maupun antarsurah dalam Al-Qur'an. Ungkapnya
"Munāsabah mengajarkan kepada kita bahwa susunan ayat-ayat Al-Qur'an memiliki keterkaitan yang sangat mendalam. Dari pemahaman terhadap hubungan tersebut, seorang mufasir dapat bergerak lebih jauh untuk menangkap tujuan besar atau maqāṣid yang hendak diwujudkan oleh Al-Qur'an. Karena itu, munāsabah dan maqāṣid bukanlah dua pendekatan yang saling menggantikan, melainkan saling melengkapi," jelas Prof. Hasani di hadapan peserta seminar.
Ia menegaskan, Bahwa pendekatan integratif antara munāsabah dan tafsir maqashidi membuka ruang bagi lahirnya penafsiran yang tidak hanya kuat secara tekstual, tetapi juga memiliki daya jawab terhadap berbagai persoalan kontemporer, seperti keadilan sosial, perlindungan lingkungan, hak asasi manusia, moderasi beragama, pembangunan perdamaian, hingga etika pemanfaatan teknologi. Tegas Prof Hasani
Dalam seminar tersebut, Prof. Hasani juga menguraikan bahwa seorang mufasir pada era modern dituntut memiliki kemampuan membaca teks Al-Qur'an secara utuh. Penafsiran tidak cukup berhenti pada makna kebahasaan atau sebab turunnya ayat, tetapi juga perlu memahami struktur, kesinambungan tema, konteks historis, serta tujuan universal syariat yang terkandung dalam setiap pesan Al-Qur'an.
Lebih lanjut Prof Hasani, menjelaskan bahwa tafsir maqashidi merupakan salah satu arah baru dalam pengembangan studi Al-Qur'an yang mampu menjembatani warisan intelektual klasik dengan kebutuhan masyarakat kontemporer. Melalui pendekatan tersebut, Al-Qur'an tidak hanya dipahami sebagai teks yang dibaca dan ditafsirkan, tetapi juga sebagai pedoman yang menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, kemaslahatan, dan rahmat bagi seluruh alam. Pungkasnya
Seminar berlangsung secara interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta. Sesi diskusi dipenuhi berbagai pertanyaan mengenai perkembangan metodologi tafsir, hubungan antara tafsir klasik dan tafsir kontemporer, hingga peluang pengembangan riset tafsir maqashidi di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam. Mahasiswa dan dosen memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdialog langsung dengan Prof. Hasani mengenai berbagai isu aktual dalam studi Al-Qur'an.
Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Gus Dur Pekalongan, Dr. Adi Abdullah, Lc., M.A. menyampaikan apresiasi atas kehadiran Prof. Hasani Ahmad Said. Menurutnya, seminar ini memberikan perspektif baru bagi sivitas akademika dalam memahami perkembangan metodologi tafsir yang terus mengalami pembaruan tanpa meninggalkan akar tradisi keilmuan Islam.
Sebagai Guru Besar Tafsir Maqashidi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Hasani Ahmad Said dikenal aktif mengembangkan kajian tafsir, ulumul Qur'an, serta pemikiran Islam melalui berbagai penelitian, publikasi ilmiah, dan forum akademik nasional maupun internasional. Gagasannya mengenai integrasi antara kajian munāsabah dan tafsir maqashidi menjadi salah satu kontribusi penting dalam pengembangan studi Al-Qur'an di Indonesia.
Melalui seminar bertajuk "Dari Munasabah menuju Maqashidi: Pendekatan Integratif dalam Kajian Tafsir Al-Qur'an", diharapkan lahir semangat baru di kalangan mahasiswa dan akademisi untuk terus mengembangkan penelitian Al-Qur'an yang mendalam, kritis, serta mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan umat dan kemanusiaan. Kegiatan ini juga memperkuat kolaborasi akademik antara UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dalam memajukan kajian keislaman yang inovatif, kontekstual, dan berorientasi pada kemaslahatan.
(Yan/Red*)

Posting Komentar