Cilegon, (KBN.COM) — Pelantikan Majelis Daerah (MD) KAHMI Kota Cilegon bukan sekadar seremoni organisasi. Di tangan Wakil Wali Kota Cilegon, Fajar Hadi Prabowo, momentum ini ditegaskan sebagai titik balik—bahwa peran pemuda tak boleh lagi berhenti pada wacana, melainkan harus menjelma menjadi kekuatan konkret dalam pembangunan daerah.
Di hadapan para alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Fajar menyampaikan apresiasi atas soliditas KAHMI yang dinilainya konsisten menjaga ritme konsolidasi. Ia bahkan membandingkan dengan daerah lain yang dinilai mulai kehilangan daya kritis pemudanya. Cilegon, kata dia, justru menunjukkan tren sebaliknya—lebih hidup, lebih vokal, dan lebih terlibat.
“Di daerah lain pemudanya cenderung pasif, tapi di Cilegon kita bersyukur karena pemudanya aktif, terus memberi ide dan masukan. Ini adalah energi besar bagi pembangunan,” ujar Fajar, menegaskan bahwa kritik bukan ancaman, melainkan bahan bakar bagi kemajuan.
Namun, Fajar juga mengingatkan bahwa idealisme saja tidak cukup. Dalam realitas politik dan pemerintahan, proses mencetak pemimpin adalah arena ujian yang tidak ringan. Kritik, tekanan, bahkan pengorbanan adalah paket yang tak terpisahkan.
“Menjadi pemimpin itu harus siap diuji. Siap dikritik, bahkan siap berkorban. Di situlah integritas dibentuk,” tegasnya, memberi sinyal bahwa kader HMI harus siap naik kelas—dari sekadar pengamat menjadi pelaku.
Struktur kepengurusan MD KAHMI Cilegon yang baru pun dinilai menjanjikan. Masduki dipercaya sebagai Koordinator Presidium, didampingi jajaran presidium: Rizki Khorul Ichwan, Ari Muhammad, Rizmi Samsul, dan Achmad Haeroni. Sementara posisi Sekretaris Jenderal diemban Rikil Amri, dan Bendahara Umum oleh Arief Rachman Elchair.
Formasi ini, menurut Fajar, bukan sekadar susunan nama, melainkan representasi potensi besar yang jika dikelola dengan baik bisa menjadi motor penggerak perubahan. Ia mendorong agar KAHMI tidak hanya menjadi ruang nostalgia alumni, tetapi bertransformasi menjadi mitra strategis pemerintah.
“Dengan komposisi ini, saya optimistis KAHMI bisa memperkuat jaringan dan menghadirkan kontribusi nyata. Pemerintah membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya,” katanya.
Pesan itu jelas: kolaborasi adalah kunci. Di tengah kompleksitas tantangan pembangunan kota industri seperti Cilegon, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan peran aktif komunitas intelektual, termasuk KAHMI, untuk menjaga arah kebijakan tetap berpihak pada kepentingan publik.
Pelantikan ini pun diharapkan menjadi lebih dari sekadar agenda organisasi. Ia harus menjadi titik awal kebangkitan peran alumni HMI di Cilegon—mengonsolidasikan gagasan, memperluas jejaring, dan yang terpenting, menghadirkan solusi nyata.
Jika tidak, maka kritik yang selama ini lantang disuarakan hanya akan berakhir sebagai gema tanpa dampak. Dan Cilegon, tentu membutuhkan lebih dari sekadar suara—ia butuh aksi.
(Yan/Red*)

Posting Komentar