Cilegon, (KBN.COM) — Proyek SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) Berkah Maju Tegal Padang yang semestinya menjadi lokomotif kesejahteraan justru memantik keresahan warga. Di Lingkungan Leuweung Sawo, RT 003 RW 009, Kelurahan Kotabumi, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon, geliat pembangunan SPPG dinilai berjalan tanpa transparansi dan tanpa keberpihakan pada masyarakat sekitar.
Ketua RT setempat, Sarbini, menyebut sejak survei lokasi yang dilakukan pada Desember 2025 lalu, warga hanya menjadi penonton.
“Waktu survei cuma tunjuk-tunjuk tempat, lalu langsung kontrak dengan pemilik rumah. Tidak ada koordinasi dengan RT, kelurahan, apalagi Polsek,” kata Sarbini saat ditemui Rabu (18/2/2026).
Padahal, sebagai bagian dari program pelayanan gizi nasional, SPPG seharusnya membawa efek berlapis bagi lingkungan sekitar—dari perputaran ekonomi hingga penyerapan tenaga kerja lokal.
Merasa dipinggirkan, warga melalui kelurahan telah mengirim surat resmi kepada Kepala SPPG Berkah Maju Tegal Padang. Intinya sederhana: meminta kejelasan dan kesempatan bagi warga sekitar untuk bekerja.
Namun hingga kini, surat itu tak kunjung dibalas.
“Kami tidak minta yang muluk-muluk. Warga hanya ingin dilibatkan. Tapi sampai sekarang tidak ada respons,” ujar Sarbini.
Ironisnya, aturan Badan Gizi Nasional (BGN) dengan tegas mengamanatkan minimal 30 persen tenaga kerja berasal dari masyarakat lokal.
Keresahan kian memuncak ketika proses rekrutmen yang berlangsung berbulan-bulan justru dibayangi isu tak sedap. Dari kampung-kampung sekitar seperti Kebondalem dan Cilentrang, beredar kabar adanya dugaan percaloan dengan skema bayar agar bisa diterima kerja.
“Memang masih lisan, tapi sudah ramai. Kalau ini benar, artinya bukan pemberdayaan yang terjadi, tapi peminggiran,” tegas Sarbini.
Data di lapangan pun dinilai janggal. Dari informasi awal, SPPG Berkah Maju Tegal Padang disebut bakal memproduksi hingga 3.000 ompreng makanan per hari. Dengan skala sebesar itu, idealnya dibutuhkan puluhan bahkan ratusan tenaga kerja.
Namun hingga kini, yang terdengar baru sekitar lima orang, itupun tanpa kejelasan status.
“Secara logika ini tidak masuk akal. Ini seperti mengelabui publik,” katanya.
Selain soal pekerjaan, warga juga dihantui kekhawatiran lingkungan. Informasi yang beredar, saluran pembuangan limbah SPPG diduga akan dialirkan ke selokan permukiman.
“Kalau limbah masuk ke selokan warga, ini bukan sekadar bau atau kotor. Ini bisa jadi masalah kesehatan,” ujar Sarbini.
Bagi warga Leuweung Sawo, proyek SPPG sejatinya bisa menjadi berkah. Namun tanpa transparansi, koordinasi, dan keberpihakan pada tenaga lokal, proyek ini justru terancam menjadi bom waktu sosial.
“Kami hanya minta satu: kalau ada proyek besar di lingkungan kami, libatkan kami. Jangan sampai warga jadi korban di rumah sendiri,” tegas Sarbini.
Kini bola panas ada di tangan pengelola SPPG Berkah Maju Tegal Padang. Akankah proyek ini benar-benar membawa gizi dan kesejahteraan, atau justru menambah daftar panjang kekecewaan warga?
(Yan/Red*)

Posting Komentar