Cilegon, (KBN.COM) — Bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah tidak dipandang sekadar periode ibadah tahunan. Bagi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Cilegon, Ramadhan adalah momentum strategis untuk memperkuat fondasi karakter peserta didik.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Cilegon, Heni Anita Susila, menegaskan bahwa kegiatan belajar mengajar selama Ramadhan perlu disesuaikan secara bijak agar siswa tetap produktif tanpa mengurangi kekhusyukan beribadah.
“Ramadhan bukan alasan turunnya kualitas pendidikan. Justru ini saat yang tepat membentuk karakter anak melalui nilai kesabaran, empati, dan kebersamaan,” ujar Heni saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Rabu (18/2/2026).
Menurut Heni, pola pembelajaran di sekolah perlu dibuat lebih fleksibel dan humanis. Penyesuaian jam belajar menjadi lebih singkat, kegiatan yang lebih ringan, serta ruang istirahat yang cukup merupakan bagian dari strategi menjaga keseimbangan fisik dan mental siswa.
Sejumlah skema pembelajaran dianjurkan, seperti:
• Pengaturan jadwal belajar yang lebih ringkas dan adaptif
• Metode pembelajaran berbasis diskusi dan refleksi
•Kegiatan tadarus Al-Qur’an dan penguatan literasi keagamaan
• Aktivitas kreatif yang relevan dengan nilai Ramadhan
• Pengurangan kegiatan fisik berat maupun aktivitas luar ruang
Sekolah juga diminta menyisipkan materi pembelajaran yang kontekstual dengan nilai-nilai Ramadhan, sehingga pendidikan tidak hanya berlangsung secara akademik, tetapi juga menyentuh dimensi moral dan spiritual.
Pendekatan ini dinilai sebagai bagian dari pendidikan karakter yang berkelanjutan. Ramadhan menjadi laboratorium sosial tempat siswa belajar mengendalikan diri, mengelola waktu, serta membangun kepedulian terhadap sesama.
Tak hanya sekolah, Dindikbud juga menekankan pentingnya keterlibatan orang tua. Pendampingan di rumah menjadi faktor penentu keberhasilan siswa dalam menjaga ritme belajar dan ibadah.
Orang tua diharapkan membantu menyusun jadwal harian anak, mengawasi tugas sekolah, serta memastikan asupan gizi tetap terpenuhi selama berpuasa. Dengan demikian, stamina anak terjaga dan proses belajar tetap optimal.
“Sinergi orang tua dan sekolah menjadi kunci agar anak tetap seimbang antara belajar dan ibadah,” tegas Heni.
Ia menambahkan, komunikasi intensif antara sekolah dan wali murid perlu diperkuat selama Ramadhan. Evaluasi berkala terhadap perkembangan siswa dapat menjadi bahan perbaikan agar kualitas pembelajaran tetap terjaga.
Di tengah tantangan zaman yang serba cepat, Ramadhan menjadi momen reflektif untuk menanamkan nilai integritas, disiplin, dan tanggung jawab sejak dini. Penyesuaian pembelajaran bukan bentuk kompromi terhadap mutu pendidikan, melainkan strategi adaptif agar pendidikan tetap relevan dengan konteks spiritual siswa.
Bagi Dindikbud Cilegon, Ramadhan bukan jeda dalam proses pendidikan. Ia adalah investasi karakter—ruang pembelajaran yang tidak hanya mencerdaskan secara intelektual, tetapi juga menguatkan akhlak generasi penerus.
(Yan/Red*)

Posting Komentar